Sudah dua minggu sejak pembantu lama kami, Mbak Siti, mengundurkan diri karena harus pulang kampung merawat orang tuanya. Rumah jadi agak berantakan, dan Dinda, istriku, mulai kesal. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa pembantu baru.
Namanya Rani. Umur 19 tahun, baru lulus SMA dari desa di Jawa Tengah. Tubuhnya mungil tapi sangat proporsional. Kulitnya putih mulus, wajahnya cantik dengan bibir merah alami dan mata yang polos. Yang paling mematikan: payudaranya besar dan kencang, pinggulnya lebar, dan pantatnya bulat montok. Dia masih perawan, itu jelas terlihat dari sikapnya yang pemalu dan malu-malu.
Hari pertama kerja, Rani mengenakan tanktop putih tipis dan celana pendek jeans yang cukup pendek. Dinda tidak keberatan, katanya biar Rani nyaman saat bekerja.
Sore itu, aku pulang kerja lebih awal. Rumah sepi, Dinda masih di kantor. Aku mendengar suara cipratan air dari kamar mandi utama. Rani sedang membersihkan kamar mandi.
Aku mendekat pelan-pelan, ingin mengambil gelas di dapur, tapi langkahku terhenti di depan pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Rani sedang jongkok membersihkan lantai dengan sikat. Air dari embernya ciprat ke mana-mana. Tanktop putihnya sudah basah kuyup. Karena dia tidak memakai bra, payudaranya yang besar dan kencang tercetak sangat jelas. Putingnya yang kecil tapi menonjol keras karena dinginnya air, terlihat sempurna di balik kain tipis yang menempel ketat di kulitnya. Celana pendeknya naik ke atas, memperlihatkan paha putih mulusnya yang ramping dan lembut. Sedikit celah di antara pahanya terlihat basah oleh cipratan air.
Aku berdiri membeku. Kontolku langsung mengeras di dalam celana. Sudah berbulan-bulan seks dengan Dinda terasa sangat monoton. Hanya misiioner, cepat selesai, tanpa gairah. Melihat tubuh Rani yang segar, muda, dan masih perawan itu membuat nafsuku bangkit dengan liar.
Malam harinya,
Dinda sudah tidur di sampingku. Tapi aku tidak bisa memejamkan mata. Pikiranku terus kembali ke pemandangan tadi siang.
"kenapa gambaran tubuh Rani nggak mau hilang dari kepalaku?" pikirku
Aku menelan ludah, membayangkan bagaimana rasanya meremas payudara Rani yang kencang itu, mencium putingnya yang menonjol, lalu menarik celana pendeknya ke bawah dan mengentot memek perawan yang pasti masih sempit dan rapat itu.
Dia jongkok di kamar mandi... tanktop putihnya basah kuyup. Payudaranya... astaga, besar sekali untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Bentuknya bulat sempurna, kencang, dan putingnya menonjol jelas banget. Pink gelap, kecil, tapi keras karena air dingin. Kalau aku remas, pasti empuk dan kenyal di tangan...
Aku membayangkan tanganku merayap ke bawah tanktop itu, menangkup kedua payudara Rani dari belakang, meremas pelan sambil jempolku memainkan putingnya yang mengeras.
Dan paha putihnya... mulus banget, nggak ada bulu sama sekali. Celana pendeknya naik tinggi, hampir memperlihatkan garis pantatnya yang bulat. Kalau dia membungkuk lebih dalam, pasti aku bisa lihat celah memeknya dari belakang. Masih perawan... pasti memeknya rapat, pink, dan belum pernah disentuh siapa pun.
Bayangan itu membuat kontolku berdiri tegang.menekan kain celana boxer. Aku pelan-pelan menariknya keluar dan mulai mengocok pelan, bayangan Rani semakin jelas.
Bayangin kalau aku berdiri di belakangnya... tarik celana pendeknya ke bawah. Pasti pantatnya putih mulus, belum pernah disentuh. Aku gesek-gesek kontolku di celah pantatnya dulu, biar dia merasakan seberapa besar dan panasnya. Lalu aku dorong pelan... masuk ke memek perawan yang sempit itu. Pasti dia bakal mendesah kaget, "Pak... sakit... tapi... enak..."
Aku mengocok lebih cepat, napasku mulai berat. Dinda bergeser sedikit di sebelahku, tapi aku tidak peduli.
2621Please respect copyright.PENANAGOL36QV0xm
Dia masih polos. Belum pernah di entot. Aku ingin jadi yang pertama. Aku ingin ngajarin dia cara ngisep kontol dengan mulutnya yang mungil itu. Bayangin bibir tipisnya membuka lebar, lidahnya yang polos menjilat kepala kontolku yang sudah basah oleh precum. Lalu aku pegang kepalanya, pelan-pelan dorong masuk sampai ke tenggorokannya...
Setelah itu aku angkat dia ke meja, buka kakinya lebar-lebar. Lihat memeknya yang masih virgin, basah karena penasaran. Aku gesek kontolku di klitorisnya dulu, biar dia menggelinjang. Baru aku dorong masuk perlahan... rasain selaput daranya robek, darah tipis bercampur cairan memeknya yang licin. Dia bakal nangis campur nikmat, "Pak Andika... lebih dalam... entot Rani lebih keras..."
Pikiran itu membuatku hampir mendesah keras. Tangan kananku semakin cepat mengocok kontol yang sudah licin oleh precum. Aku membayangkan menyemburkan sperma panas ke dalam rahim Rani yang masih suci, mengisi memek perawannya sampai penuh, sampai spermaku menetes keluar dari lubangnya yang baru pertama kali diisi.
Kalau Dinda tahu... pasti marah besar. Tapi sialnya, justru pikiran itu yang bikin aku semakin horny. Rani cuma pembantu, tapi tubuhnya jauh lebih segar dan menggoda daripada istriku sendiri.
Aku terus mengocok, semakin cepat, napasku tersengal. Akhirnya, dengan gigi mengatup rapat supaya tidak bersuara, aku menyemburkan sperma panas ke telapak tanganku. Tubuhku bergetar hebat saat orgasme itu datang, tapi bayangan Rani masih belum hilang. Malah semakin kuat.
Besok... aku harus dapat kesempatan lebih dekat dengan dia. Entah bagaimana caranya.
Aku membersihkan tangan dengan tisu, lalu berbaring lagi.
Keesokan paginya, aku bangun dengan nafsu yang belum padam. Rani sudah sibuk di dapur membuat sarapan. Dia mengenakan seragam pembantu sederhana, tapi roknya pendek dan blusnya cukup ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Dinda berangkat kerja lebih dulu. Rumah hanya tinggal aku dan Rani.
Aku duduk di meja makan sambil memperhatikannya dari belakang. Pantatnya bergoyang pelan saat dia mengaduk masakan. Nafsu yang semalam belum hilang semakin membara. Rani muncul dari dapur membawa piring nasi goreng dan telur mata sapi.
"Selamat pagi, Pak Andika. Sarapannya sudah siap,” katanya lembut, meletakkan piring di depanku. Suaranya masih polos, tapi aku melihat pipinya sedikit merah saat aku menatapnya lebih lama dari biasanya.
“Terima kasih, Ran,” jawabku sambil tersenyum. Mataku sengaja turun ke dadanya. Blusnya cukup tipis, dan karena dia tidak memakai bra lagi hari ini, bentuk payudaranya masih terlihat samar-samar. Putingnya tidak terlalu menonjol, tapi aku tahu persis seperti apa bentuknya kemarin.
"Rani," panggilku dengan suara agak serak.
"Iya, Pak Andika?" jawabnya lembut, menoleh dengan wajah polos.
"Kamu cantik sekali hari ini."
Rani langsung tersipu, pipinya merah.
"Makasih, Pak... tapi saya cuma pembantu biasa."
Aku tersenyum. "Kamu bukan pembantu biasa. Tubuhmu... sangat menggoda."
Dia semakin gugup, tapi aku melihat ada sedikit kilau rasa penasaran di matanya.
Rani hendak berbalik ke dapur, tapi aku cepat memanggilnya.
“Rani, tunggu sebentar.”
“Iya, Pak?” Dia berhenti, menoleh dengan mata besar polosnya.
Aku menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara rendah dan tenang:
“Duduk dulu sini. Ada yang mau aku bicarakan.”
Rani terlihat gugup, tapi dia menurut. Dia duduk di kursi di seberangku, tangannya saling genggam di pangkuan.
“Ada apa ya, Pak?” tanyanya pelan.
Aku menatap matanya langsung.
“Kamu cantik sekali, Ran. Dari kemarin aku perhatikan. Tubuhmu... sangat seksi.”
Wajah Rani langsung memerah hebat. Dia menunduk, jari-jarinya saling meremas.
“Pak... jangan bicara begitu. Saya cuma pembantu di sini...”
“Tapi itu yang sebenarnya,” lanjutku, suaraku semakin lembut tapi penuh nafsu.
“Kemarin sore, waktu kamu bersihkan kamar mandi... bajumu basah. Aku melihat semuanya. Payudaramu yang besar dan kencang, putingmu yang menonjol, paha putihmu yang mulus... Aku tidak bisa berhenti memikirkan itu semalaman.”
Rani semakin tersipu. Nafasnya terlihat lebih cepat.
“Pak Andika... itu... saya tidak sengaja... Maaf kalau membuat Bapak tidak nyaman.”
Aku tersenyum tipis dan bangkit dari kursi. Aku berjalan mengitari meja dan berdiri tepat di sampingnya. Tangan kananku pelan-pelan menyentuh bahunya yang lembut.
“Kamu tidak membuatku tidak nyaman, Ran. Malah sebaliknya. Aku jadi sangat horny semalaman. Aku bayangin terus bagaimana rasanya menyentuh tubuhmu.”
Rani menggigit bibir bawahnya, matanya melirik ke arahku dengan campuran takut dan penasaran.
“Pak... Bapak sudah punya istri”
“Dinda sedang di kantor. Dia tidak akan tahu,” kataku sambil tanganku turun perlahan ke lengannya, lalu ke pinggangnya yang ramping.
“Kamu masih perawan, kan?”
Rani mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Suaranya bergetar.
“Iya, Pak... belum pernah...”
Jantungku berdegup kencang. Aku menarik kursinya sedikit ke belakang dan berdiri di depannya. Kontolku sudah keras banget di dalam celana training.
“Aku ingin jadi yang pertama buat kamu, Ran. Aku ingin rasain tubuhmu yang masih suci ini. Kamu mau coba?”
Rani diam sejenak. Wajahnya merah padam, napasnya tersengal pelan. Dia menunduk, tapi aku melihat kedua paha mulusnya saling menggesek pelan, seperti sedang menahan sesuatu.
“Pak... saya takut... tapi...” suaranya hampir berbisik, “...saya juga penasaran...”
Aku tersenyum lebar. Tangan kananku naik ke dagunya, mengangkat wajahnya agar menatapku.
“Bagus. Mulai dari sekarang ya.”
Aku menariknya berdiri pelan-pelan. Tubuhnya gemetar sedikit saat aku peluk pinggangnya dan tarik lebih dekat ke tubuhku. Payudaranya yang besar menempel lembut di dada ku. Aku bisa merasakan putingnya mulai mengeras.
“Sentuh kontolku dulu, Ran,” bisikku di telinganya sambil memegang tangannya dan membawanya ke selangkangan ku.
Rani ragu-ragu, tapi jarinya akhirnya menyentuh tonjolan keras di celanaku. Matanya melebar.
“Wah... besar sekali, Pak...” gumamnya polos.
2621Please respect copyright.PENANAXit1A3JZHb


