Sepulang dari sawah, Tidak lama datang suaminya Diana. Mandra.
246Please respect copyright.PENANAZLQHOCUZup
Diana menyambut kepulangan suaminya itu dengan senyuman hangat. Hari itu hatinya begitu berbunga-bunga.
246Please respect copyright.PENANAdIb8TTsS0H
“ini mas kopinya. “
246Please respect copyright.PENANAlZKnc79ihJ
Diana meletakkan kopi hitam itu di atas meja. Mandra tersenyum mengangguk.
246Please respect copyright.PENANA7yp1BEgB6G
“Gimana perjalanan ke kota mas? aman.” tanya Diana.
246Please respect copyright.PENANA4vBWmLJtY8
“Aman-aman aja. mas juga udah beli semua alat-alat yang dibutuhkan, Oh ya bapak sama ibu kemana? “ tanya Mandra melihat suasana rumah agak sepi.
246Please respect copyright.PENANAoz94bc8N4y
“Ohh. Bapak lagi keluar katanya kerumah mbak Enah, Ibu juga masih disitu.” jawab Diana.
246Please respect copyright.PENANARvZoR92HBJ
“Ohh. yasudah mas mandi dulu ya. Udah gerah soalnya. ”
246Please respect copyright.PENANAZWzmSepPma
Diana mengangguk pelan. Mandra pun segera pergi kebelakang sambil membawa handuk.
246Please respect copyright.PENANAqMhq2UtO1N
Tidak berselang lama. Dari depan datang pak Panton dan bu Sulastri.
246Please respect copyright.PENANA6LMojFHToH
“Assalamualaikum.. “ panggil keduanya.
246Please respect copyright.PENANABP1sKyIajl
“Wa'alaikumsalam.. “ jawab Diana.
246Please respect copyright.PENANAEAcv4sQOHA
Kedua pasangan paruh baya itu melangkah masuk kedalam rumah.
246Please respect copyright.PENANAPhN8Ip18qD
“Mandra udah pulang atau belum neng?” tanya Bu Sulastri.
246Please respect copyright.PENANA2R1XFqhOrv
Diana mengangguk tersenyum. “Udah bu. baru setengah jam ia pulangnya. “
246Please respect copyright.PENANA7kc641MF8P
“Oh.. Bagus lah. Ini tolong tarok ini di dapur ya neng, Jangan lupa di panasin biar gak basi. “
246Please respect copyright.PENANACDEUrxAMxB
Bu Sulastri menyerahkan satu kantong plastik hitam ke Diana.
246Please respect copyright.PENANAoO3UQFSX1U
“Apa ini bu? ” tanyanya.
246Please respect copyright.PENANABKn7Z90P8Z
“Itu daging kambing rendang. Mbak Enah yang ngasih tadi.”
246Please respect copyright.PENANAXses20E2oG
“Wahh.. lumayan buat lauk kita nanti bu.” ucap Diana.
246Please respect copyright.PENANAb9gbm0cJBF
“Iya neng. Makanya ibu suruh neng panasin biar gak basi. ”
246Please respect copyright.PENANAY14PONwRPM
“Kalau gitu neng panasin dulu ya bu. ”
246Please respect copyright.PENANAyk8BbuowOl
Bu Sulastri mengangguk pelan. Diana pun segera ke dapur guna memanaskan rendang daging itu. Sedangkan pak Panton dia duduk di ruang tengah bersama sang istri.
246Please respect copyright.PENANADUZNlIeztJ
“Bapak gak langsung mandi aja? Dari sawah tadi loh. ” tanya bu Sulastri.
246Please respect copyright.PENANAyPrKUE8CW5
“Nanti aja bu masih capek. “
****
Singkat waktu. Malam pun sudah tiba. Langit sudah digantikan oleh awan hitam serta sinar bintang dan bulan.
246Please respect copyright.PENANA6xUGPRkLbo
Keluarga basar itu makan bersama. Dan di akhiri berpisah kamar.
246Please respect copyright.PENANA5sQpBxHOh1
Suasana malam itu sunyi tapi damai. Namun siapa sangka dalam kesunyian itu ada sebuah rahasia yang sangat besar.
246Please respect copyright.PENANAZjenHZY8VW
Ruangan gelap hanya ada sinar api lilin menyala.
246Please respect copyright.PENANAWZ6Pf3SfU9
Pak Panton duduk dalam kondisi meditasi. Nafasnya begitu teratur. Tenang dan fokus.
246Please respect copyright.PENANAdNe8uvONsx
Entah apa yang sedang ia lakukan di ruangan kumuh itu.
246Please respect copyright.PENANAWD90ljlyuo
Beberapa menit kemudian. Suasananya berubah drastis.
246Please respect copyright.PENANAkAkhChqorn
Suhunya semakin panas. Membuat tubuh tua pak Panton bercucuran keringat.
246Please respect copyright.PENANABi9pfRgOZo
Dan tiba-tiba..
246Please respect copyright.PENANAkmhZ4GybpG
Whuss!
246Please respect copyright.PENANA2HdrNuMXbI
Deru angin muncul entah dari mana. Memadamkan beberapa lilin.
246Please respect copyright.PENANA7egenAtHnx
Lalu pak Panton membuka matanya. Ekspresi pak Panton sangat berbeda dari pada biasanya.
246Please respect copyright.PENANADO2FYBuFAG
Kali itu auranya berubah 90 darajat. Ia tersenyum menyerangai.
246Please respect copyright.PENANAFXEOqVHtqF
“Darto-Darto. aku kira hanya ibu Narsih yang kau embat, ternyata kau juga mengembat istrinya pak kepala desa sama ibu-ibu yang lain. Memang kau tua-tua sialan.”
246Please respect copyright.PENANARuRoD5RGHA
Lalu pak Panton membuat gerakan tengan yang sangat sulit untuk di tebak. Gerakan itu begitu kuno.
246Please respect copyright.PENANADmSJJWN9tk
Dan penuh aura mistis. Lalu pak Panton menghibaskan kedua telapak tangannya ke dadanya.
246Please respect copyright.PENANAD4cwDtxFXO
Bughh!
246Please respect copyright.PENANAaf7ulqpmqe
“Ughh.. huekk.“
246Please respect copyright.PENANABj5o5FqZZS
Pak Panton memuntahkan cairan berwarna darah gelap. Cairan itu mengumpul seakan tidak dapat dihancurkan.
246Please respect copyright.PENANAyH8RCLEhnb
246Please respect copyright.PENANASiywfqMbnN
“Sebenarnya aku tidak ingin lagi kembali kedalam jalan itu. Tapi desa ini sepertinya semakin lama, Semakin tidak tentu arah, Karena kalian sudah mengusik menantuku, Maka aku juga tidak bisa tinggal diam lagi.“
246Please respect copyright.PENANAfMcSWUnlRZ
Pak Panton segera melingkari gumpalan darah gelap itu dengan cahaya api lilin.
246Please respect copyright.PENANAVkLB8KKfQs
Lalu mulut pak Panton berkomat-kamit entah apa yang sedang ia lakukan.
246Please respect copyright.PENANAoyMR3jQn2D
Namun secara tiba-tiba. Muncul suara desingan angin.
246Please respect copyright.PENANAUfEKYDq15N
Begitu suara angin itu tidak ada lagi. Pak Panton membuka matanya. Kini didepan ada sebuah mutiara tiga warna ukurannya. Hanya sebesar kelereng.
246Please respect copyright.PENANADUiuRK1hfH
“Akhirnya.. Berhasil juga.. Huhhff.” gumamnya.
246Please respect copyright.PENANA7FV8PDcORl
Nafas pak Panton sedikit ngos-ngosan. Wajahnya pun sedikit pucat.
246Please respect copyright.PENANAsYzKz01ArM
Lalu mutiara tiga warna itu. di ambil oleh pak Panton. Ia menatapnya cermat.
246Please respect copyright.PENANAmIvDf36AoU
246Please respect copyright.PENANAVJ8JzZILn0
“Mutiara cendonolongit. Akhirnya kita bertemu kembali. ”
246Please respect copyright.PENANA7EkhyAPWN0
Mutiara cendonolongit, adalah sebuah harta yang nilai tidak terhingga, Mutiara cendonolongit bukan sembarangan mutiara.
246Please respect copyright.PENANAvaB17l7Fka
Itu adalah salah satu harta goib serta bumi, Konon dulu jika ada orang melenalan mutiara itu. Orang itu akan mendapatkan kedigdayaan goib.
246Please respect copyright.PENANAGoNhycRS7y
Dan rumor itu memang tidak abal-abal. Sebab pak Panton sudah mencobanya beberapa kali.
246Please respect copyright.PENANAF7gHnoIkQt
Tidak ingin berlama-lama lagi. Pak Panton pun menelan mutiara cendonolongit.
246Please respect copyright.PENANA9izXNcY0qE
“Aarrghhh.. ”
246Please respect copyright.PENANAWCPqABCkxL
Pak Panton mengerang pelan. Ia merasakan setiap persendian tubuhnya begitu panas, Namun tidak berlangsung lama.
246Please respect copyright.PENANARPX7hw9KTO
“Tidak berubah. kau selalu membuat ku terkejut. ”
246Please respect copyright.PENANAZ7B5t9JF4J
Sebuah suara serak mengagetkan pak Panton. Suara itu tidak datang dari sebelah kiri mau pun kanan dan depan.
246Please respect copyright.PENANAPKeYACHH6S
Suara itu seolah-olah tidak memiliki arah. Ia hanya menggema.
246Please respect copyright.PENANAGL87wuZvgu
“Arrghhh.. eyang, salam hormat. “ ucap pak Panton terbata-bata.
246Please respect copyright.PENANAU5nGTtsFFH
Ia segera menundukkan kepalanya. Lalu tidak berselang lama. Muncul sesosok pria tua bersurban hitam.
246Please respect copyright.PENANALmodcMqIfh
Penampilannya begitu mencolok. Jenggot berwarna putih kulitnya sudah keriput namun sangat tegas.
246Please respect copyright.PENANAmDsOrp57ii
Di kepalanya. kain hitam melingkar menutupi rambut bagian atas.
246Please respect copyright.PENANA2TItwtSWH4
“Kau kenapa melangkah lagi ke jalan ini. Wahai cucu ku? Tidaklah cukup kau menapaki selama empat tahun lalu? ” ucap sosok pria tua itu.
246Please respect copyright.PENANAuROWO1ldL6
Tingginya hanya sekitar 160 lebih. Satu tangannya kebelakang satu lagi mengelus jenggotnya.
246Please respect copyright.PENANARkbacdaqGy
246Please respect copyright.PENANAqm2D8WJ7hD
Ia tidak menghadap ke pak Panton. Melainkan membelakanginya.
246Please respect copyright.PENANAkSZETF1K2Z
“Hmm... aku rasa eyang pun tau, kenapa aku melangkah kembali ke jalan ini. ” ucap pak Panton penuh kehati-hatian.
246Please respect copyright.PENANAVoLvY7BITm
Pria tua itu sekilas tersenyum.
246Please respect copyright.PENANAMbe4PxcAPu
“Baiklah jika itu yang kau inginkan.. Tapi ingat satu hal wahai cucu ku.”
246Please respect copyright.PENANAZ5ccDMxr0u
“Jangan terlalu lama kamu menapaki jalan ini. Sebab wadah seperti mu tidak akan sanggup menanggung bebannya, Jika tadi kamu berlatih dari awal. Mungkin itu tidak akan masalah dan eyang ingatkan, kau boleh melakukan apa saja yang kau mau, tapi itu semua harus kau pertanggung-jawaban jangan lari dari perbuatan cucu ku.”
246Please respect copyright.PENANAWQkl71MkOg
Whuuss..
246Please respect copyright.PENANAnDDkh8N8zB
Sosoknya pun seketika menghilangkan. seperti tidak pernah ada.
246Please respect copyright.PENANAmYhNH9Mu73
“Baik eyang.. Aku akan ingat itu. ” gumam pak Panton.
246Please respect copyright.PENANATR2pLe9GIL
Setelah semuanya selesai. Pak Panton memilih untuk keluar setelah memadamkan api lilin.
246Please respect copyright.PENANApUFzInMsfB
Ia segera ke kamarnya untuk tidur. Karena sebentar lagi matahari sudah terbit.
246Please respect copyright.PENANA5DDbB4IjDt
*****
246Please respect copyright.PENANA9Oy65ecAK8
Pagi harinya. Tempat pukul tujuh pagi. Diana keluar rumah.
246Please respect copyright.PENANA9WKyybMmcv
“Bu. Diana ke warung pak Darto dulu ya mau beli sayuran. ” ucap Diana dari depan.
246Please respect copyright.PENANAjavldUFJr7
“Iya neng. Hati-hati di jalan. ” ucap suara bu Sulastri dari dalam rumah.
246Please respect copyright.PENANAELNbPLpjrE
Diana pun segera pergi, Pagi itu ia mengenakan daster longgar bermotif bunga.
246Please respect copyright.PENANAg48pVyeePb
Sesampainya di warung pak Darto. Tempat itu sudah tidak lagi ramai. Hanya ada beberapa ibu-ibu lagi.
246Please respect copyright.PENANAR8HJgsUan1
246Please respect copyright.PENANA2OCS0Ipyir
Diana menyapa mereka penuh sopan santun. Begitu pun sebaliknya.
246Please respect copyright.PENANApb9epMsdUs
Diana memilih sayuran serta beberapa ikan lokal yang di jual.
246Please respect copyright.PENANAV9WFra2Upa
“Berapa semuanya pak? “ tanya Diana.
246Please respect copyright.PENANAXeumgFLwVQ
“45 ribu neng. “ ucap pak Darto.
246Please respect copyright.PENANAgIr6sTGnuY
Diana menyerahkan satu uang lembaran berwarna biru. Pria tua pun segera mengambil dan menukarnya.
246Please respect copyright.PENANAggW5libaiA
“Ini neng kembaliannya limar ribu. ”
246Please respect copyright.PENANA3IDOhOWIpB
“Terimakasih pak.“
246Please respect copyright.PENANAYCbjF0h6Zp
Saat hendak ia ingin pergi. Tiba-tiba saja ia di panggil salah satu ibu-ibu. yang tak lain adalah ibu Narsih.
246Please respect copyright.PENANALCRzdU43l4
“Neng Diana. Tunggu.“
246Please respect copyright.PENANA3BUBvKa7fs
Diana menoleh. “ iya ada apa ya bu? ”
246Please respect copyright.PENANABpNzysvJ2n
Bu Narsih mendekati Diana. Ia sedikit tersenyum.
246Please respect copyright.PENANANfW29Fmbo2
“Hmm.. neng ada waktu gak? Soalnya ibu mau bicara sebentar.” ucap bu Narsih.
246Please respect copyright.PENANAs7qRXpGvVf
“Boleh. Mau bicara apa emang bu? ” tanya Diana.
246Please respect copyright.PENANAB0ZsTrbySc
“Jadi gini. ibu ada sesuatu yang mau bicarakan, Kalo disini rasanya kurang nyaman. Gimana nanti ibu datang kerumah? ” usul bu Narsih.
246Please respect copyright.PENANANyohQRoDYV
“Boleh.. ibu datang aja kalo gitu. ”
246Please respect copyright.PENANAiuKvQtSbad
“Yasudah.. nanti siang ibu datang. ”
246Please respect copyright.PENANAXV32Jo2wez
Setelah itu Diana pun pemit pergi. Sedangkan bu Narsih kembali ke warung pak Darto.
246Please respect copyright.PENANAcGPXrUhGXb
Kini warung itu sudah sepi pembeli. Pak Darto melihat kedatangan bu Narsih. Ia tersenyum.
246Please respect copyright.PENANAiEHnfcKfep
“Gimana bu, Aman? ” tanya pak Darto.
246Please respect copyright.PENANAoRq3wLQEjD
Bu Narsih tersenyum mengangguk pelan. “ Aman lah. Siapa dong yang ajak.”
246Please respect copyright.PENANARVePUfiXnm
“Widihh... Bagus bagus. Kalo gitu sini masuk kerumah dulu bu. mupung istri saya tidak ada.” ucap pak Darto mengedipkan matanya.
246Please respect copyright.PENANArmoxi0wQT8
Bu Narsih tersenyum salah tingkah. ia pun segera masuk kedalam rumah pak Darto sekaligus tempat jualannya.
246Please respect copyright.PENANAQAnGCXaA6G
“Kiyahhh.”
246Please respect copyright.PENANAVEV47XdSsH
Tubuh bahenol bu Narsih di tarik oleh pak Darto.
246Please respect copyright.PENANAIo93Pwy5c5
“Chuphhh Uhmmm Sruphhh.”
246Please respect copyright.PENANAH7qpzPlofd
Kedua segera berciuman penuh hasrat. Mereka melakukannya tidak dalam rumah melainkan di tempat pak Darto jualan.
246Please respect copyright.PENANAD7diaqhQC6
Untuk tempat itu agak tertutup oleh papan kayu. Jadi tidak terlihat apa yang mereka lakukan.
246Please respect copyright.PENANAacXPifBGrP
“Aahhh Ughhmmm cepat pak takut datang orang nanti. ” ucap bu Narsih.
246Please respect copyright.PENANAqkzpKviLtN
“Sabar to bu.. tempik mu belum basah. Sini jongkok. ”
246Please respect copyright.PENANAbOpydq4L88
(Kelanjutan dari kisah ini bisa kalian kunjungi melalui lin!k bawah 👇ini
246Please respect copyright.PENANA6m7jAVdBe8
https://bit.ly/4cqMj8W246Please respect copyright.PENANAP7UuBhE59c


