Laju kuda yang berjalan semakin pelan.
Udara semakin dingin dan menusuk pori-pori kulit. Hari yang cerah sebelum memasuki hutan kini menghilang. Jalanan hanya dipenuhi udara berembun. Beruntung tidak ada angin yang berhembus. Ara yang berada paling belakang menghembuskan napas lewat mulutnya berusaha agar bisa melawan dingin.
Mantel berbulu yang membalut pakaiannya pun tetap kurang efektif untuk melawan dingin. Setelah selesai beristirahat sebentar sambil mengganti pakaian yang penuh darah tadi, Ara bersama rombongannya langsung melanjutkan perjalanan. Pengawal Soo Ho mengatakan bahwa Kelompok Namin dapat menemukan mereka jika tidak segera pergi.
Selir Choi memberitahukan bahwa mereka bisa menghilangkan jejak saat memasuki hutan. Kini, mereka berada di tengah hutan yang dipenuhi kabut embun yang sangat dingin. Setidaknya itu bagi Ara.
Lama-lama gua bisa beku.37Please respect copyright.PENANAJ6fXuK0LJ6
Dinginnya Jati Nangor juga kalah. Padahal itu udara terdingin yang pernah gua rasain. Jadi kangen masa-masa jadi anggota pramuka. Banyak untungnya juga gua ikut kegiatan pramuka dan paskibra. Daya tahan tubuh gua jadi lebih kuat. Udah nggak asing sama alam, apalagi hutan. 37Please respect copyright.PENANAw8gTt6G0Xw
Itu cukup bantu gua bertahan di sini.37Please respect copyright.PENANAn6GH5hI00s
Udara yang semakin dingin membuyarkan lamunan Ara. Dia bahkan bisa melihat hembusan napasnya sendiri lewat mulutnya. Dia bisa merasakan udara yang semakin dingin menyentuh tulangnya. Tubuhnya tidak bisa lagi menahan lebih lama.37Please respect copyright.PENANAyuTdqY7g5V
"Hei! Ini terlalu dingin! Aku bisa mati kedinginan!" Ara mengeraskan suaranya dengan bahasa santai agar dapat didengar oleh Pengawal Soo Ho yang berada paling depan, bertanggung jawab atas kuda yang menarik tandu berkuda Selir Choi.
Dayang Hye Won menoleh ke belakang.
"Bukan hanya kamu saja yang kedinginan," sambar Dayang Hye Won.
Sial.
Selir Choi membuka jendela kecil yang ada di tandu berkudanya.
"Setelah keluar dari hutan, ada goa. Kita bisa istirahat di sana. Tunggulah sebentar lagi." Selir Choi yang menjawab.
Mereka kembali bergerak.
Ara hanya mendengus kesal sendiri.37Please respect copyright.PENANABk9mgx5XWD
Dingin! Dingin! Dingiiiiin!!!
Ara terpaksa mengikuti dan berusaha menahan udara dingin yang kapan saja bisa membunuhnya. Hal yang paling tidak disukainya berada di Indonesia adalah udara panasnya. Namun, jika udaranya terlalu dingin seperti ini, dia juga membencinya. Mimpinya ingin merasakan salju di Korea Selatan harus dibatalkannya. Ide buruk jika dia harus mati kedinginan sebelum menyentuh salju.
Tidak terasa mereka tiba di sebuah bebatuan yang dibuat seperti gapura. Mereka melewatinya lalu jalan menurun. Selir Choi memerintahkan untuk berhenti. Selir Choi keluar dari tandu berkudanya. Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won ikut turun dari kuda masing-masing. Ara juga melakukan hal yang sama.
"Ayo, ikuti aku." Selir Choi menuju tumbuhan hijau menjalar yang tampak menutupi sesuatu yang ada di baliknya tanpa diketahui oleh mata. Tangan Selir Choi menggeser tumbuhan hijau itu lalu masuk ke dalamnya.
Mereka mengikuti satu persatu bersama kuda masing-masing.
Di dalam sana terasa lebih dingin. Sebuah goa besar yang hampa tanpa ada apa-apa. Pengawal Soo Ho segera mencari kayu bakar dan membuat perapian. Dayang Hye Won mulai merapikan alas untuk Selir Choi istirahat. Sedangkan Ara memperhatikan bebatuan bening berbentuk runcing di ujung goa yang udaranya paling dingin. Disentuhnya batu bening tersebut.
Es?
"Itu adalah balok dingin," seru Selir Choi memberitahu.
Gua juga tahu.
Ara tidak mengindahkan pemberitahuan tersebut. Dia menarik kuat batu bening itu hingga patah di tengah-tengah.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan itu?" tanya Dayang Hye Won.
Ara menunjuk bahu tangan kanannya yang masih diikat tanpa bersuara.
Dayang Hye Won tidak paham akan diapakan batu es bening itu pada tangan Ara. Dia saling tatap dengan Pengawal Soo Ho.
"Butuh bantuan?" seru Pengawal Soo Ho.
"Kau ingin mati?" Ara mengancam dengan ringan.
"Aku hanya ingin membantu," protes Pengawal Soo Ho cepat.
"Bagaimana denganku?" sambung Dayang Hye Won.
"Lupakan," jawab Ara cepat.
"Dia tidak sopan dan sangat dingin. Dia lebih dingin dibandingkan udara di sini. Bagaimana bisa ada perempuan seperti itu?" gumam Dayang Hye Won yang merasa kesal.
Pengawal Soo Ho memperingatkan lewat pandangan. Dayang Hye Won segera sadar diri. Dia menoleh ke arah Selir Choi lalu menundukkan kepala.
"Maafkan ucapan saya, Yang Mulia." Kata Dayang Hye Won cepat.
Selir Choi hanya tersenyum.37Please respect copyright.PENANAXc7w4adKGx
"Kalian tunggu di sini, istirahatlah." Perintah Selir Choi yang beranjak dari tempat duduknya menuju tempat Ara.
Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won bersamaan menganggukkan kepala.
37Please respect copyright.PENANAhoV7PADzPz
^ ^ ^
37Please respect copyright.PENANAwM96Qy25bj
Ara menuju balik tandu berkuda Selir Choi. Dia harus mengompres bahu tangan kanannya. Jika tidak, tangannya akan terus meradang kaku dan sakit. Beruntung udara dingin membantunya meredam sedikit rasa sakitnya. Itu sering dilakukannya setiap kali bahu kanannya kambuh setelah melakukan banyak aktifitas. Sejak kecelakaan, bahu tangan kanannya memang tidak bisa sembuh total seperti sedia kala.
Dia hanya menahan rasa sakitnya dan istirahat yang banyak. Tidak memberitahu siapa pun tentang keadaan tangannya yang memburuk setiap kali melakukan aktifitas. Kedua orang tuanya sekalipun tidak tahu tentang itu. Dia memutuskan untuk menahannya sendirian, daripada harus memberitahu kedua orang tuanya dan menjadi beban. Keadaan kedua orang tuanya sudah sulit membiayai sekolahnya dan adiknya, mana mungkin dia tega menambahinya.
Dilepasnya kain pinggangnya sedikit hanya agar bisa sedikit membuka pakaian bagian bahunya. Dia mengompres bahunya dengan patahan balok es runcing yang tadi. Biasanya saat bahu tangan kanannya sakit, bahunya panas seperti meradang dan dia mengompres nya dengan es batu. Tiba-tiba dia menoleh ke samping saat melihat ada kehadiran Selir Choi.
"Aku hanya ingin membantu. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan mengganggu kenyamananmu." Kata selir Choi.
Adanya lo di sini udah bikin gua nggak nyaman.
Ara kembali melihat depan dan tidak mengacuhkan kehadiran Selir Choi.
Selir Choi mengambil alih patahan es bening itu dari tangan Ara untuk menggantikan Ara agar Ara bisa beristirahat. Ara sendiri memandangi dinding goa dengan pandangan kosong dan mulut yang mengatup diam. Tubuhnya yang bersandar di roda tandu berkuda merasa nyaman.
"Sudah lama aku tidak melakukan segalanya dengan tanganku sendiri, sejak diangkat menjadi selir raja." Ujar Selir Choi mengawalinya.
Lagi?37Please respect copyright.PENANA3EGUDfHRdv
Dia mau curhat apa lagi?37Please respect copyright.PENANARr7nGhl9yU
Ara tidak merespon.
"kamu satu-satunya orang yang tidak takut, tidak hormat, dan tidak patuh padaku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa membencimu. Padahal aku tidak mengenalmu, tidak tahu namamu, tidak tahu nama keluargamu, dan tidak tahu dari mana asalmu. Ketidaktahuan itu membuatku mempercayaimu. Terima kasih, kamu sudah menepati janjimu untuk melindungiku." Lanjut Selir Choi panjang lebar.
Ara tetap tidak merespon.
Selir Choi memperhatikan bahu Ara yang merah dan mulai membeku karena kompres patahan es bening itu yang kini tersisa sedikit karena mencair.
"Apa ini cukup untuk menyembuhkan bahumu?" tanya Selir Choi.
Ara menggelengkan kepala.
"Terima kasih," ucap Ara.
Selir Choi tersenyum senang mendengarnya.
Ara mengambil kain panjang pengikat tangannya tadi untuk membalut bahunya seperti perban. Selir Choi cepat tanggap dan langsung membantunya. Selir Choi hanya melihat tanpa berkomentar saat melihat kain yang dijadikan Ara sebagai hijab menutupi kepala dan rambutnya. Setelah itu, Selir Choi meninggalkan Ara untuk istirahat dan dia kembali ke tempat semula.
"Pengawal Soo Ho, buatkan perapian di dekatnya agar bisa beristirahat dengan nyaman." Perintah Selir Choi.
"Baik, Yang Mulia."
Pengawal Soo Ho segera melaksanakannya. Dia sempat terhenti saat melihat Ara yang memejamkan mata dengan topi jeraminya yang dibuka tetapi tetap memakai kain penutup wajahnya. Diperhatikannya kepala dan rambut Ara yang dibungkus kain hitam. Satu warna itu yang selalu diminta Ara dan disiapkan oleh Dayang Hye Won.
Meskipun hanya mata Ara yang terpejam yang dapat dilihatnya, dia tetap bisa tahu bahwa Ara kelelahan.
Selama Pengawal Soo Ho membuat perapian, Ara tidak membuka matanya. Artinya, Ara tertidur pulas. Pengawal Soo Ho mengambil selimut dari kotak penyimpanan di belakang tandu berkuda Selir Choi lalu menutupi tubuh Ara perlahan agar tidak membuat Ara terbangun. Setelah selesai, Pengawal Soo Ho kembali ke tempatnya.
Ara memang tertidur pulas karena rasa lelah yang berlebihan.
37Please respect copyright.PENANAUBauOVPLfE
37Please respect copyright.PENANAOPm3vYULti
37Please respect copyright.PENANA1LekLxIJTW
Bersambung...
37Please respect copyright.PENANA4fQ6I5lA0L
37Please respect copyright.PENANA9YNpBGyQS1
37Please respect copyright.PENANA4GWn1KEESi
37Please respect copyright.PENANA8ginKq5c3K


