Aroma tanah basah yang diguyur hujan bercampur dengan wangi sisa pembakaran kemenyan kelapa dari perkebunan menguar kuat di udara malam itu. Desa Sindanghalimun, sebuah ceruk tersembunyi di kaki perbukitan Pasundan, malam itu sedang diselimuti kabut tipis yang turun lebih cepat dari biasanya. Udara dingin yang menggigit tulang membuat dinding-dinding kayu Masjid Jami terasa lembap. Namun, di dalam ruang utama masjid, suasananya terasa hangat atau lebih tepatnya, menghangat oleh untaian kalimat yang keluar dari bibir seorang pria.
Ustadz Hartono berdiri di dekat mimbar, menyandarkan tubuh tingginya yang mencapai 182 sentimeter pada tiang kayu jati yang kokoh. Malam itu adalah pengajian rutin malam Jumat untuk ibu-ibu desa. Hartono, dengan kulitnya yang hitam legam akibat terbakar matahari di kebun kelapa miliknya, tampak begitu kontras sekaligus berwibawa dalam balutan baju koko putih bersih yang melekat pas di tubuh kekarnya. Dada bidangnya yang tebal meliuk samar di balik kain katun tipis, sementara lengan tangannya yang berotot, dipenuhi urat-urat menonjol akibat kerja keras menempa alam, sesekali bergerak menegaskan ceramahnya.
"Maka, Ibu-ibu sekalian..." suara bariton Hartono yang berat dan dalam bergema, getarannya seolah merayap di lantai masjid yang dingin. "Kewajiban seorang istri di dalam rumah bukan hanya memastikan masakan matang atau baju suami tersetrika rapi. Ada nafkah yang jauh lebih mendasar, nafkah yang sering kali tidak diucapkan tetapi menjadi tiang penyangga ketenteraman jiwa. Yaitu nafkah batin."
Hartono tersenyum tipis, sebuah gurauan khas pria matang berusia 32 tahun yang tahu benar bagaimana cara menghadapi jemaah wanita. Kilatan matanya yang hitam tajam menyapu ruangan.
"Jangan sampai, ketika suami pulang dari ladang atau kantor dalam keadaan lelah, yang menyambut di depan pintu adalah wajah yang cemberut atau daster yang bau bawang. Layani suami dengan kehangatan yang penuh. Karena ketenangan seorang pria itu ada pada keikhlasan istrinya di atas ranjang. Itu adalah ibadah yang paling tinggi nilainya di dalam kamar."
Bisik-bisik lirih langsung riuh di antara barisan ibu-ibu. Ada yang tersipu malu menutup wajah dengan ujung mukena, ada pula yang saling menyenggol lengan temannya sambil tertawa cekikikan. Di barisan paling depan, duduk seorang wanita yang sejak awal tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Hartono.
Rina Saraswati. Wanita berusia 28 tahun itu duduk bersimpuh dengan keanggunan yang mutlak. Sebagai Ibu Lurah muda yang terpaksa naik takhta menggantikan almarhum suaminya yang meninggal dua tahun lalu, Rina selalu menjaga wibawanya. Namun malam ini, entah mengapa, setiap kata yang keluar dari mulut Hartono seolah menjelma menjadi jemari tak kasatmata yang menggelitik relung hatinya yang paling dalam.
Rina memiliki kecantikan khas Sunda yang legam memikat; kulitnya kuning langsat, sangat bersih dan kontras dengan kegelapan malam. Di balik gamis sutra berwarna hijau zamrud yang longgar, siluet tubuhnya yang matang dan berbentuk seperti jam pasir tidak bisa disembunyikan. Dadanya yang penuh dan montok naik turun secara teratur seiring dengan napasnya yang mendadak terasa berat saat menatap lurus ke arah rahang tegas dan leher kokoh milik Hartono.
Ketika pengajian berakhir dan jam dinding masjid menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas malam, satu per satu ibu-ibu mulai berpamitan, bergegas pulang menembus gerimis yang mulai turun. Namun Rina tetap bergeming di tempat duduknya. Ia merapikan pashmina premiumnya yang menutupi bagian dada, bersiap untuk mendekati sang Ustadz dengan dalih yang sudah ia persiapkan.
"Ustadz Hartono," panggil Rina lirih ketika ruangan mulai sepi. Suaranya lembut namun memiliki tekanan yang menuntut perhatian.
Hartono menoleh, merapikan beberapa kitab di atas meja kecil. "Eh, Ibu Lurah. Ada yang bisa saya bantu? Mengapa belum pulang? Di luar gerimis sudah mulai lebat."
Rina bangkit berdiri, melangkah mendekat dengan gerakan pinggul yang anggun, membuat kain gamisnya bergesek halus. "Ada hal penting mengenai koordinasi bantuan sosial desa dan santunan anak yatim untuk bulan depan yang ingin saya diskusikan, Ustadz. Kebetulan saya membawa berkasnya sedikit."
"Ah, silakan duduk kembali kalau begitu, Bu Lurah," jawab Hartono ramah, tetap menjaga jarak aman sebagai seorang ustadz yang menghormati seorang wanita, terlebih seorang janda terhormat di desa itu.
Namun, alam seolah memiliki rencana lain. Baru saja Rina duduk di dekat selasar dalam yang agak remang, langit di atas Sindanghalimun mendadak pecah. Hujan deras langsung turun bagai ditumpahkan dari langit, menghantam atap seng selasar masjid dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Angin kencang berembus, membawa uap air yang dingin ke dalam ruangan.
Pettt!
Tiba-tiba, seluruh cahaya padam. Listrik di desa itu mati total akibat badai. Masjid Jami seketika tenggelam dalam kegelapan yang pekat, hanya menyisakan keremangan tipis dari kilatan petir di luar.
"Astagfirullah..." Rina terpekik kecil, tubuhnya refleks bergeser mendekat ke arah Hartono dalam kegelapan.
"Tenang, Bu Lurah. Jangan panik. Tetap di tempat Anda," suara Hartono terdengar begitu menenangkan di tengah kegelapan, meskipun di dalam dadanya sendiri ada sesuatu yang berdesir aneh ketika mencium aroma parfum floral Rina yang menguar kuat karena kelembapan udara.
Hartono meraba-raba kantong celananya, menyalakan lampu senter kecil dari ponselnya. Cahaya temaram itu menerangi wajah Rina dari bawah, membuat kulit putihnya tampak berkilau dan matanya yang sayu terlihat begitu rapuh. Di bawah pencahayaan yang minim, suasana formal di antara mereka mendadak menguap, digantikan oleh keintiman yang pekat yang dipaksakan oleh keadaan.
"Hujannya sangat deras, Ustadz. Sepertinya tidak akan reda dalam waktu dekat," bisik Rina. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal. Rina bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh kekar Hartono, sebuah kontras yang tajam dengan udara malam yang dingin menggigit.
"Iya, sepertinya begitu. Kita tunggu saja di sini sebentar," kata Hartono, mencoba mengalihkan fokusnya kembali ke berkas. Namun, Rina tampaknya sudah tidak tertarik lagi membahas urusan desa.
Rina menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti keluhan yang terpendam sangat lama. "Ustadz... sebenarnya, ceramah Ustadz tadi malam... sangat menyentuh hati saya."
Hartono memandang Rina, menaruh ponselnya di lantai dengan posisi cahaya menghadap ke langit-langit, menciptakan panggung remang-remang di antara mereka. "Maksud Ibu mengenai nafkah batin?"
Rina menunduk, jemarinya yang lentik memainkan ujung hijabnya. "Dua tahun, Ustadz... Dua tahun sejak almarhum suami saya tiada. Di usia saya yang baru dua puluh delapan tahun ini, memimpin desa di siang hari membuat saya harus tampak kuat di depan semua orang. Tetapi saat malam tiba, ketika kamar menjadi begitu dingin dan sepi... nafkah batin yang Ustadz bicarakan tadi rasanya seperti sebuah mimpi yang menyiksa."
Hartono terdiam. Sebagai seorang duda yang sudah sembilan tahun hidup sendiri setelah istrinya meninggal karena sakit keras, ia paham betul rasa sepi itu. Kulit hitam legamnya seolah memanas mendengarkan pengakuan jujur dari wanita secantik Rina. Gairah kelaki-lakiannya yang selama sembilan tahun ini ia kubur rapat-rapat di balik kesibukan kebun kelapa dan pengajaran agama, mendadak menggeliat bangun seperti naga yang terusik.
"Ibu Rina... kesabaran atas ujian kesendirian adalah pahala yang besar," ujar Hartono dengan suara yang mulai serak, menahan gejolak di dadanya.
Rina mendongak, menatap langsung ke dalam mata hitam Hartono. "Saya manusia biasa, Ustadz. Malam ini, udara sangat dingin, dan mendengar penjelasan Ustadz tentang keikhlasan di atas ranjang... membuat seluruh tubuh saya meremang. Saya merindukan sentuhan seorang pria yang matang, yang bisa membimbing sekaligus menguasai saya sepenuhnya."
Kata-kata Rina begitu berani, penuh dengan birahi yang sudah mencapai puncaknya setelah dipendam bertahun-tahun. Nafas Rina memburu, membuat dadanya yang montok naik turun dengan cepat, mengencangkan kain gamisnya. Hartono menelan ludah, memandangi bibir penuh Rina yang sedikit terbuka dalam kegelapan.
"Sudah hampir setengah sebelas malam, Ustadz. Hujan tidak akan reda. Maukah Ustadz mengantar saya pulang? Rumah saya dekat dari sini," pinta Rina dengan nada memohon yang teramat sangat.
Hartono menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan akal sehatnya yang mulai goyah. "Baik, Bu Lurah. Saya ambil payung besar di belakang."
Satu payung besar berwarna hitam menjadi saksi bisu ketika tubuh tinggi besar Hartono dan tubuh sintal Rina berjalan berdampingan menembus derasnya hujan Sindanghalimun. Agar tidak basah oleh tampias air, Rina merapatkan tubuhnya tanpa celah ke sisi kanan Hartono. Lengan berotot Hartono yang kekar sesekali bergesekan langsung dengan dada Rina yang empuk melalui kain pakaian mereka. Setiap kali gesekan itu terjadi, Rina mendesah pelan, memejamkan matanya menikmati sensasi kejantanan Hartono yang begitu kokoh.
Sesampainya di depan pintu rumah joglo milik Ibu Lurah yang cukup luas dan sepi anak-anaknya yang masih kecil sudah tidur pulas di kamar belakang ditemani pembantu yang juga sudah terlelap Rina tidak segera melepaskan pegangannya pada lengan Hartono.
"Ustadz, pakaian Anda agak basah di bagian bahu. Masuklah sebentar, saya buatkan kopi hangat untuk menghangatkan tubuh Anda. Tolong, jangan tolak saya malam ini," bisik Rina, matanya berkilat penuh harap dalam kegelapan teras rumah.
Hartono melihat sekeliling. Desa sudah mati, sepi, hanya ada suara hujan yang menderu. Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit malam. Langkah kakinya seolah dituntun oleh takdir terlarang ketika ia melangkah masuk ke dalam rumah, dan Rina langsung mengunci pintu depan dengan rapat.
(Pembukaan Adegan Inti)
Di dalam ruang tengah yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang menyala di atas meja sudut, atmosfer ruangan mendadak berubah menjadi medan magnet yang sarat akan gairah yang meledak-ledak. Rina meminta Hartono menunggu di sofa, sementara ia masuk ke dalam kamarnya dengan alasan mengganti pakaian yang lembap.
Ketika Rina kembali beberapa menit kemudian, jantung Hartono seolah berhenti berdetak.
Ibu Lurah yang biasanya tampil terhormat dengan hijab rapat itu kini telah bertransformasi sepenuhnya. Rina menanggalkan hijabnya, membiarkan rambut hitamnya yang panjang sepinggang dan bergelombang terurai bebas, membingkai wajah cantiknya yang kini kemerahan oleh gairah. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna merah marun berpotongan rendah di bagian dada. Kain tipis itu menempel ketat di kulit kuning langsatnya yang mulus karena sisa keringat dingin.
Dan yang paling membuat darah Hartono berdesir hebat: di balik daster tipis itu, Rina sama sekali tidak mengenakan bra atau pakaian dalam atas. Sepasang payudaranya yang besar, padat, dan montok menggantung dengan indah, bergoyang sensual setiap kali ia melangkah. Di balik kain daster yang semi-transparan terkena cahaya lilin, puting dadanya yang kecokelatan mencuat keras dan menegang, menantang pandangan Hartono dengan sangat jelas.
Hartono berdiri dari sofanya, tubuh tingginya yang kekar tampak mendominasi ruangan. Kulitnya yang hitam legam berkilat di bawah cahaya lilin, memancarkan aura maskulinitas yang luar biasa mentah dan perkasa.
"Rina..." suara Hartono tidak lagi seperti seorang Ustadz. Itu adalah suara seorang pria dewasa yang lapar, suara seorang duda matang yang insting berburunya telah bangkit sepenuhnya.
"Kang Hartono..." Rina memanggilnya dengan sebutan 'Kang', sebutan manja khas Sunda, meruntuhkan seluruh sekat formalitas di antara mereka. Ia melangkah mendekat, matanya sayu menatap dada bidang Hartono yang naik turun dengan perkasa. "Sentuh saya, Kang... Saya sudah tidak tahan lagi. Tolong runtuhkan kesepian ini..."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hartono maju satu langkah besar. Tangan kanannya yang besar, kasar, dan kuat langsung mencengkeram pinggang ramping Rina, menarik tubuh sintal itu hingga menempel tanpa jarak ke tubuh kekarnya yang panas. Rina memekik kecil, sebuah desahan langsung lolos dari bibirnya saat dadanya yang besar tertekan rata pada dada bidang Hartono yang sekeras batu.
"Ohhh, Akang... besar sekali tubuhmu..." desah Rina, tangannya menjalar ke tengkuk Hartono, meremas rambut pendek pria itu.
Hartono tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menundukkan kepalanya yang besar dan langsung melumat bibir penuh Rina dengan ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan sembilan tahun kesendirian. Rina menyambutnya dengan beringas, membuka mulutnya lebar-lebar, membiarkan lidah kekar Hartono mengobrak-abrik rongga mulutnya. Suara kecapan basah berbaur dengan deru hujan di luar.
"Mmmph... ahhh... Akanghh..." desah Rina di sela-sela ciuman panas mereka.
Tangan besar Hartono yang hitam legam bergerak liar di atas daster satin Rina. Ia meraba lekuk pinggulnya yang besar, turun ke bokongnya yang padat, lalu naik ke atas, langsung meremas sepasang payudara Rina yang besar dan montok dari luar kain. Rina melengguh keras, tubuhnya lemas di pelukan Hartono.
"Ohss... ahh! Remas yang kuat, Kang! Ahhh... sudah lama sekali tidak ada yang menyentuh ini... mmmgh!" Rina mendesah runtut, kepalanya mendongak ke belakang saat jemari kuat Hartono memuntir lembut ujung dadanya yang mengeras di balik daster.
Hartono yang sudah kehilangan kendali gairahnya langsung menyergap leher putih Rina, menggigit dan menjilatnya dengan rakus, meninggalkan tanda merah keunguan di kulit mulus sang Ibu Lurah.
"Ahhh! Kang Hartonohhh... geli, Ahhh... nikmat sekali, terus Kanghh..." desahan Rina semakin cepat dan beruntun, memenuhi ruang tengah yang sunyi.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Hartono mengangkat tubuh Rina yang berisi ke atas meja kayu di ruang tengah, menyingkirkan beberapa cangkir kosong hingga berdenting. Kain daster Rina tersingkap ke atas, menampilkan paha putih mulusnya yang meliuk indah di bawah cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam.
Hartono dengan cepat melepas baju kokonya, memperlihatkan otot-otot dadanya yang bidang, perutnya yang kotak-kotak keras, dan kulit hitam legamnya yang berkeringat karena gairah yang membakar. Ketika melihat tubuh telanjang dada Hartono yang begitu perkasa seperti prajurit kuno, mata Rina melebar penuh kekaguman dan birahi yang semakin menggila.
"Akang... kau begitu perkasa... ahhh, kulitmu yang hitam membuatku semakin gila... mmmph!" Rina menarik kepala Hartono kembali ke dadanya.
Hartono langsung menurunkan daster Rina hingga sebatas pinggang, membebaskan sepasang mahakarya indah yang selama ini tersembunyi. Payudara Rina yang besar, putih bersih dengan puting yang menegang keras, kini terpampang nyata di depan matanya. Hartono menggeram rendah, seperti singa yang melihat mangsanya. Ia langsung membenamkan wajahnya di antara belahan dada Rina yang harum, menjilat, mengecap, dan mengulum seluruh bagian payudara besar itu bergantian.
"Ahhh! Ohhh, Akang! Sedot yang kuathh! Ahhh... mmmgh... ya Allah, nikmatnyahhh... akhh!" Rina mencengkeram bahu kekar Hartono, kukunya menggores kulit hitam pria itu saat mulut Hartono mengulum habis puting dadanya yang besar, menciptakan suara hisapan yang basah dan sensual.
"Ohhh... ahhh... mmmgh... terus, Kang... putingku... ahhh, hisap lebih dalam... akhhh!" Desahan Rina semakin melengking, bersahut-sahutan dengan suara petir yang menggelegar di luar desa Sindanghalimun. Tubuh sintalnya menggeliat-geliat di atas meja, merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Hubungan masa lalunya dengan almarhum suaminya tidak pernah seintens dan seberingas ini. Kejantanan Hartono yang liar benar-benar menaklukkannya.
Gairah yang sudah tidak terbendung membuat Hartono bergerak cepat menanggalkan sisa pakaian mereka berdua. Di atas meja ruang tengah itu, dalam keremangan cahaya lilin, dua tubuh yang kontras warna kulitnya hitam legam yang perkasa dan putih mulus yang sintal montok menyatu dalam jalinan gairah yang primitif.
Ketika kejantanan Hartono yang besar dan luar biasa kokoh mulai mencari celah di antara paha mulus Rina yang sudah basah oleh cairan alaminya sendiri, Rina menjerit tertahan.
"Ohhh... Akang... besar sekali... ahhh, pelan-pelan Kang... akhh! Punya Akang besar dan keras sepertih kayu kelapah... ahhh!"
Hartono menggeram, menatap wajah Rina yang memerah pasrah. Dengan satu hentakan yang mantap dan bertenaga, ia melesakkan seluruh kejantanannya masuk ke dalam kehangatan tubuh Rina.
"AKANGHHH!!! AHHH!!! YA ALLAH... PENUHHH... AHHH!!!" Rina menjerit histeris, matanya terpejam erat, air mata kenikmatan menetes di sudut matanya saat tubuhnya yang sudah dua tahun kosong kini diregangkan sepenuhnya oleh keperkasaan Hartono. Bokongnya yang besar terangkat dari meja, menempel ketat pada pangkal paha Hartono.
Hartono tidak memberi ampun. Ia mulai mengayunkan pinggulnya yang berotot dengan ritme yang cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan tubuh kekarnya membuat meja kayu di ruang tengah itu berderit keras. Kulit hitam legam Hartono yang basah oleh keringat bergesekan dengan kulit putih Rina, menciptakan pemandangan yang luar biasa sensual di bawah kilatan petir.
"Ahhh... ahhh... ahhh... Kang Hartonohhh! Terus, Kang! Ahhh... hantam lebih dalam... akhhh! Ohhh... nikmatnyahhh... mmmgh... aku mau keluar, Kang... ahhh... ahhh!" Desahan Rina beruntun tanpa jeda, tangannya memeluk erat punggung kekar Hartono yang berotot.
Plakk! Plakk! Plakk! Suara benturan kulit mereka terdengar begitu intens. Hanya dalam beberapa menit ritme cepat itu dilakukan, Rina mencapai puncaknya yang pertama. Tubuhnya mengejang hebat, bagian dalamnya menjepit kejantanan Hartono dengan sangat ketat seiring jeritan kepuasan yang menggema di langit-langit rumah.
"AKANGHHH!!! KELUARHHH!!! AHHH!!! OHHH MMMGH!!!"
Rina lemas, nafasnya tersengal-sengal. Namun Hartono, dengan stamina seorang pekerja keras kebun kelapa, belum merasakan apa-apa. Ia mengangkat tubuh Rina dari meja, menggendong wanita sintal itu dengan mudahnya menuju sofa panjang. Di atas sofa, Hartono kembali menggarap tubuh Ibu Lurah dengan posisi yang lebih menuntut.
Malam itu baru dimulai. Pukul sebelas malam, badai di luar semakin mengamuk, seolah menyesuaikan dengan badai birahi yang terjadi di dalam rumah joglo tersebut.
Dari sofa ruang tengah, setelah Rina mencapai klimaksnya yang ketiga karena permainan lidah dan jari Hartono yang lihai, mereka berpindah ke lantai yang beralaskan karpet bulu tebal di depan TV. Di sana, Hartono meminta Rina mengambil posisi menungging, menampilkan pemandangan bokong putihnya yang besar dan pinggulnya yang sintal menantang dada bidang Hartono.
Dari arah belakang, Hartono kembali menusuk kehangatan Rina yang sudah sangat basah dan longgar. Cengkeraman tangan hitam Hartono di pinggul putih Rina menyisakan bekas kemerahan yang sensual. Hartono memacu tubuhnya dengan kecepatan penuh, membuat buah dada Rina yang besar berayun-ayun liar ke bawah.
"Ahhh... ahhh... ahhh... Kang! Dari belakang dalam sekalihhh... akhhh! Ohhh... pantatku... ahhh... hantam terus, Kang Ustadz... akhhh! Aku pasrahhh... ohhh... keluar lagi... akhhh!" Rina mendesah runtut, kepalanya terbenam di karpet, melengguh layaknya wanita yang benar-benar telah ditaklukkan lahir dan batin.
Pada pukul satu dini hari, setelah Rina mencapai klimaksnya yang keenam dan tubuhnya sudah gemetar hebat, Hartono akhirnya merasakan puncaknya yang pertama mendekat. Otot-otot punggung hitamnya menegang hebat, urat-urat di leher kokohnya menonjol keluar. Dengan geraman yang terdengar seperti macan lapar, Hartono mendorong kejantanannya sedalam mungkin ke dalam rahim Rina dan menembakkan cairan spermanya yang kental dan panas untuk pertama kalinya.
"ARRRGHHH!!!" Hartono menggeram panjang, tubuh tingginya ambruk di atas punggung Rina, menikmati setiap tetes kehangatan yang memancar di dalam rahim wanita itu. Rina sendiri kembali menjerit karena semburan sperma yang panas itu memicu klimaksnya yang ketujuh.
"Ohhh... hangat, Kang... rahimku penuh... ahhh... nikmat sekali... mmmgh..." bisik Rina lemas, memeluk lengan kekar Hartono yang melingkari lehernya.
Setelah beristirahat sejenak sambil meneguk air putih dalam kegelapan, gairah di antara janda muda dan duda matang itu bukannya padam, malah semakin membara. Udara Sindanghalimun yang semakin dingin menjelang pukul dua pagi seolah menjadi bensin yang terus membakar api birahi mereka.
Hartono mengangkat tubuh Rina yang tanpa busana, membawanya masuk ke dalam kamar pribadi Ibu Lurah yang bernuansa kayu jati dengan ranjang besar di tengahnya. Di dalam kamar yang beraroma lavender itu, pertempuran ronde kedua dimulai dengan lebih liar.
Di atas ranjang empuk milik Rina, Hartono benar-benar menunjukkan dominasi seorang pria sejati. Ia tidak lagi menahan diri. Setiap sudut kamar itu menjadi saksi bisu keperkasaan sang pemilik kebun kelapa. Dari posisi Rina yang mengangkat kedua paha putihnya yang mulus ke atas bahu kekar Hartono, hingga posisi di mana Rina berada di atas, menggoyangkan pinggulnya yang besar dengan daster yang sudah robek di lantai, mencoba mengimbangi kejantanan Hartono yang kembali mengeras sekeras batu.
"Ahhh... ahhh... Kang Hartonohhh... kau tidak ada habisnyahhh... akhhh!" desah Rina, rambut panjangnya yang basah oleh keringat menempel di wajah cantiknya. Payudara besarnya memantul-mantul sensual saat ia menunggangi tubuh hitam legam Hartono yang telentang di ranjang.
Hartono menatap pemandangan indah di atasnya dengan mata yang tajam. Tangannya yang besar naik, meremas sepasang buah dada Rina yang bergoyang, mengaturnya agar pas dengan gerakannya. "Kamu yang memintanya, Rina... Sembilan tahun aku menahan ini, dan malam ini, rahimmu harus menerima semuanya," bisik Hartono dengan suara baritonnya yang serak penuh ancaman yang nikmat.
"Ohhh... masukkan semuanya, Kang... penuhikh rahimku... akhhh!" jerit Rina, mempercepat goyangan pinggulknya saat merasakan kejantanan Hartono semakin membesar di dalam dirinya.
Pertempuran itu berlanjut hingga pukul tiga lewat tiga puluh menit dini hari. Kamar tidur Rina dipenuhi oleh suara derit ranjang yang berirama cepat, suara tamparan kulit yang intens, serta desahan-desahan manja dan runtut dari Rina yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kenikmatan yang bertubi-tubi.
Sepanjang malam yang panjang itu, di bawah lindungan badai hujan Desa Sindanghalimun, Hartono dengan fisik kekarnya yang luar biasa berhasil menembakkan soerma atau air mani kentalnya ke dalam rahim Rina sebanyak empat kali. Setiap tembakan dilakukan dengan dorongan terdalam, membanjiri bagian terdalam organ intim Rina dengan kehangatan kejantanannya.
Sementara itu, Rina Saraswati, sang Ibu Lurah yang memiliki tubuh montok dan matang itu, benar-benar dibuat tak berdaya. Sensasi luar biasa dari tubuh kekar dan hitam legam milik Hartono membuatnya mengalami orgasme dan klimaks yang luar biasa hebat hingga dua belas kali. Setiap kali ia mencapai klimaks, tubuh putih mulusnya akan mengejang, matanya mendongak, dan desahan panjang yang sensual akan lolos dari bibirnya yang kini sudah bengkak karena ciuman malam itu.
Jarum jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit pagi. Di luar, hujan deras yang mengguyur Desa Sindanghalimun mulai mereda, menyisakan rintik-rintik kecil dan kabut tebal yang menyelimuti seluruh desa dengan keheningan yang mistis. Suara kepakan sayap burung malam dan rintik air yang jatuh dari daun-daun pohon kelapa terdengar samar.
Di dalam kamar tidur, lilin telah lama padam, digantikan oleh berkas cahaya kelabu yang samar dari ufuk timur yang mulai membayang di balik jendela.
Dua tubuh yang kelelahan itu berbaring berdampingan di atas ranjang yang sudah berantakan. Seprai sutra putih milik Rina kini dipenuhi noda-noda basah sisa pertempuran semalam suntuk. Hartono telentang dengan satu tangan menyangga kepalanya, dada bidangnya yang hitam legam naik turun dengan teratur, dipenuhi keringat yang mulai mengering. Di sampingnya, Rina tidur menyamping, merapatkan tubuh putih mulusnya yang tanpa sehelai benang pun ke pelukan Hartono. Kepala Rina bersandar di atas lengan berotot sang Ustadz, wajah cantiknya memancarkan rona kepuasan yang luar biasa, sebuah ekspresi kedamaian yang tidak pernah terlihat di wajahnya selama dua tahun terakhir.
Hartono memandangi wajah wanita di pelukannya. Sisa-sisa gairah malam tadi masih terasa di pembuluh darahnya, namun akal sehatnya sebagai seorang pemuka agama perlahan mulai kembali seiring dengan terdengarnya suara sayup-sayup selawat dari pengeras suara masjid di kejauhan, menandakan waktu Subuh akan segera tiba.
Rina melengguh pelan, merasakan pergerakan Hartono. Ia membuka matanya yang sayu, menatap pria yang telah mengubah malam dinginnya menjadi neraka birahi yang paling nikmat.
"Kang..." bisik Rina, suaranya parau namun terdengar sangat manja. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang kekar Hartono, merasakan kejantanan pria itu yang masih terasa hangat bersentuhan dengan paha mulusnya.
"Rina, waktu Subuh sudah hampir tiba. Saya harus segera kembali ke masjid sebelum warga desa mulai terbangun dan menyadari kehadiran saya di sini," kata Hartono, suaranya kembali berat dan berwibawa, meskipun ada nada kelembutan yang tersisa.
Rina mengangguk pelan, ia tahu benar konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan. Di sebuah desa kecil seperti Sindanghalimun, hubungan antara seorang Ustadz terhormat dan seorang Ibu Lurah janda akan menjadi skandal terbesar yang bisa menghancurkan reputasi mereka berdua dalam sekejap.
"Saya tahu, Kang..." Rina bangun, membiarkan daster satinnya yang robek di bagian bahu menjuntai menutupi sebagian tubuh montoknya. Ia menatap Hartono dengan tatapan mata yang penuh rahasia. "Malam ini... apa yang terjadi di dalam rumah ini, di atas ranjang ini... hanya milik kita berdua. Tidak akan ada satu jiwa pun di desa ini yang boleh tahu."
Hartono berdiri, mengumpulkan pakaian kokonya yang berserakan di lantai. "Ya. Biarlah ini menjadi rahasia yang terkubur bersama kabut Sindanghalimun malam ini."
Rina tersenyum penuh arti. Sambil merapikan rambut panjangnya yang kusut, ia bisa merasakan sisa-sisa kehangatan dari empat kali tembakan cairan hidup Hartono yang kini bersemayam di dalam rahimnya, mengalir perlahan di antara paha mulusnya. Ada kepuasan batin yang luar biasa mengalir di dadanya. Kesepian yang menyiksanya selama dua tahun telah tuntas dibasuh oleh keperkasaan sang Ustadz.
Setelah mengenakan kembali pakaiannya dengan rapi dan memastikan penampilannya kembali seperti semula, Hartono berjalan menuju pintu belakang rumah joglo tersebut agar tidak terlihat oleh siapa pun. Rina mengantarnya hingga ambang pintu dapur yang langsung menghadap ke jalan setapak kecil di pinggir kebun kelapa.
Kabut pagi yang tebal langsung menyambut tubuh tinggi besar Hartono saat ia melangkah keluar. Sebelum benar-benar menghilang di balik keremangan kabut, Hartono menoleh sekali lagi ke arah Rina yang berdiri di kegelapan pintu dengan daster merahnya.
"Assalamualaikum, Bu Lurah," ucap Hartono, kembali menggunakan panggilan formalnya, seolah-olah pertempuran beringas semalam hanyalah sebuah mimpi.
"Waalaikumussalam, Ustadz Hartono," jawab Rina dengan senyum manis yang penuh kemenangan.
Hartono berbalik dan berjalan cepat menembus kabut pagi menuju masjid, membiarkan sosok kekarnya tenggelam dalam putihnya halimun. Di dalam hatinya, sebuah babak baru kehidupan di Desa Sindanghalimun telah dimulai. Pertahanannya sebagai seorang duda suci telah runtuh, dan ia tahu, Rina Saraswati bukanlah satu-satunya wanita yang menatapnya dengan pandangan penuh gairah di desa itu. Masih ada lima muslimah lain di lingkaran pengajian dan warung kebunnya yang sedang menunggu giliran untuk menyentuh kehangatan sang Ustadz. Dan rahasia malam Jumat ini akan tetap tersimpan rapat, sedalam kabut yang menyelimuti perbukitan Pasundan.
ns216.73.216.66da2


