Senin siang di Sindanghalimun. Matahari bersinar terik memanggang tanah perkebunan kelapa "Halimun Coco". Uap panas menguar dari sela-sela rumput, menciptakan hawa gerah, lengket, dan mencekik napas (hareudang) yang membuat keringat terus-menerus merembes dari pori-pori kulit para buruh yang sedang beristirahat.
Namun, hawa panas di luar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hawa yang mendidih di dalam ruang kerja pribadi Ustadz Hartono.
Sang Raja Sindanghalimun baru saja kembali ke kantornya setelah memimpin salat Zuhur berjamaah di masjid desa. Ia duduk di kursi kulitnya, kemeja lengan pendeknya sengaja tak dikancingkan di bagian atas, mengekspos dada bidangnya yang berkilat oleh keringat. Pikirannya melayang pada penaklukan beruntun di akhir pekannya: Dr. Nikita yang menjerit-jerit menuntut benihnya dalam lima gaya mematikan, dan si kembar Zahra-Zara yang menangis haru kehilangan kepolosannya dalam dekapan sang Kanda. Rahim mereka semua kini menyimpan jejak kepemilikannya.
Tepat saat Hartono hendak memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, pintu kantornya diketuk dari luar.
"Masuk," titah Hartono berat.
Pintu terbuka. Masuklah Nisa Kurniasih, istri Kasim sang tangan kanan kebun, yang juga pemilik warung di pinggir jalan masuk perkebunan. Wanita berusia 22 tahun itu datang membawa rantang susun berisi makan siang khusus untuk sang Ustadz.
Melihat Nisa, insting predator Hartono langsung menyala. Nisa siang itu mengenakan daster panjang sederhana bermotif batik pudar dan sebuah hijab bergo instan. Namun, karena cuaca yang luar biasa gerah, daster tipis itu menempel pas di tubuhnya, mencetak jelas lekuk pinggulnya yang padat, berotot karena sering mengangkat galon air, dan payudaranya yang besar nan sintal. Di balik belahan kerah dasternya, terpampang kontras warna kulitnya; jika wajah dan lengannya berwarna tembaga eksotis karena terik matahari, kulit di dadanya tampak bersih, mulus, dan berkilau oleh keringat.
"Assalamualaikum, Pak Ustadz... ini makan siangnya," sapa Nisa menundukkan pandangan. Suaranya bergetar. Ingatan tentang bagaimana ia dihancurkan di dalam saung kebun beberapa minggu lalu kembali menghantam otaknya.
"Waalaikumsalam, Nisa," jawab Hartono. Ia bangkit dari kursi, melangkah mendekat, dan mengunci pintu kantor dari dalam. Klik.
Nisa menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Ia meletakkan rantang itu di atas meja. Secara refleks, kedua pahanya saling bergesekan. Ia bisa merasakan aliran cairan pelumas alami langsung merembes membasahi celana dalamnya saat itu juga. Bau maskulin Hartono yang bercampur aroma kayu gaharu benar-benar memabukkannya.
"Kasim tidak ikut mengantar?" tanya Hartono, berdiri menjulang tepat di depan Nisa.
"K-Kang Kasim lagi di blok barat, Ustadz. Sedang menghitung bibit baru. Tadi dia minta Nisa antarkan ini langsung," cicit Nisa, napasnya memburu.
"Bagus," geram Hartono. Tangan besarnya yang kasar langsung menyambar pinggang Nisa, menarik tubuh sintal itu hingga membentur keras dada bidangnya. "Aku sangat lapar, Nisa. Tapi bukan lapar akan nasi."
Tanpa aba-aba, Hartono menarik lepas hijab bergo Nisa dan melemparnya ke sudut ruangan. Rambut hitam sebahu Nisa tergerai berantakan. Hartono menundukkan wajahnya, langsung meraup bibir ranum Nisa dengan ciuman yang sangat kasar, rakus, dan beringas.
"Mmmph! Ahhh... Ustadzhh..." Nisa mendesah di dalam ciuman itu. Tangannya yang awalnya menahan dada Hartono, kini berbalik meremas kemeja pria itu. Seluruh pertahanan moralnya hancur seketika saat lidah liar sang Ustadz membelit lidahnya.
Tangan besar Hartono merayap ke leher daster Nisa. Dengan satu tarikan paksa ke bawah, ia membebaskan sepasang mahakarya alam yang tersembunyi di baliknya. Payudara Nisa yang besar, padat berisi, dan kencang melonjak keluar tanpa halangan bra. Puting kecokelatannya sudah menegang keras.
"Lihat dirimu, Istri Kasim. Putingmu langsung mengeras hanya karena berada di satu ruangan denganku," ejek Hartono dengan suara serak yang membius.
"Ahhh... Ustadz... jangan diledek... Nisa nggak tahannn..." erang Nisa, wajahnya merah padam.
Hartono menunduk, langsung membenamkan wajahnya di belahan dada wanita itu. Mulutnya melahap satu payudara dengan rakus, menghisapnya sekuat tenaga sementara lidahnya memainkan puting Nisa dengan beringas.
"Ahhh! Ya Allah, Ustadz! Kuathh... ahhh! Geli... mmmgh!" Nisa mendongakkan kepalanya ke belakang, meremas rambut Hartono. Hisapan itu menyedot seluruh akal sehatnya hingga ke dasar.
Sementara mulutnya sibuk, tangan Hartono menyusup ke balik daster, merayap naik menyusuri paha Nisa yang bugar, lalu menarik pakaian dalam wanita itu secara paksa hingga robek di bagian karetnya. Jari kasar Hartono langsung menyentuh inti kewanitaan Nisa.
"Kau basah kuyup, Nisa. Membanjir. Kau membayangkan keperkasaanku sejak dari warung, kan?" bisik Hartono di telinga Nisa, jarinya mulai mengaduk-aduk pusat kenikmatan wanita itu dengan ritme cepat.
"Ahhh!!! Iya Ustadzhh! Ahhh... ohhh... ampun, Nisa inget terus sama punya Ustadz yang besar itu... ahhh! Suami Nisa lemah Ustadz... ahhh! Ohhh! Keluar Ustadzhh... Nisa keluarrr!"
Hanya dengan sentuhan jari dan hisapan brutal di payudaranya, Nisa langsung mengejang hebat. Air madunya menyemprot membasahi jari Hartono, menetes ke karpet ruangan. Tubuhnya lemas, nyaris ambruk jika Hartono tidak memeluk pinggangnya.
Sementara badai syahwat meledak di dalam kantor, di luar sana, sebuah skenario mematikan tengah disusun oleh takdir.
Kasim, yang baru saja selesai menghitung bibit kelapa di blok barat, berjalan menuju arah kantor perkebunan. Perutnya keroncongan. Niatnya adalah menyusul istrinya, Nisa, untuk makan siang bersama sang bos jika diizinkan, atau setidaknya mengambil panci kecil sayur lodeh istrinya yang sepertinya tertinggal di dapur kantor kemarin.
Kasim berjalan dengan senyum lugu di wajahnya yang berkeringat. Ia melewati deretan pohon kelapa dan parkiran tempat Mercedes-Benz GLS 450 hitam itu terparkir gagah.
Saat Kasim mendekati bangunan kantor kayu itu, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam. Suara meja yang berdecit, dan sayup-sayup... suara rintihan seorang wanita.
Langkah Kasim terhenti. Dahinya berkerut. Ia melihat pintu utama kantor terkunci rapat. Rasa penasaran yang kelam mendorong kakinya untuk melangkah menyamping, menuju celah jendela kaca nako yang tirainya tidak tertutup sempurna di sisi kanan bangunan.
Dengan jantung yang tiba-tiba berdebar tak karuan, Kasim menempelkan wajahnya ke kaca, mengintip melalui celah kecil tirai tersebut.
Waktu seakan berhenti berdetak. Udara siang yang gerah mendadak berubah menjadi es yang menusuk langsung ke jantung Kasim. Mulut pria kurus itu ternganga lebar, matanya nyaris keluar dari kelopaknya.
Di dalam ruangan sana, tepat di atas meja kerja kayu jati sang Ustadz, rantang makan siangnya telah tergeser ke pinggir. Dan di tengah meja itu... istrinya. Nisa Kurniasih. Wanita yang ia nikahi dengan janji suci, wanita yang ia lindungi dengan keringat darahnya, kini tengah menungging tanpa mengenakan pakaian bawah sedikit pun. Daster batiknya telah ditarik hingga sebatas punggung, memamerkan bokong sintalnya yang polos.
Dan di belakang istrinya, berdiri sosok yang selama ini ia agung-agungkan. Ustadz Hartono. Pria suci yang memberinya pekerjaan, yang memimpin salatnya, yang memberinya wejangan agama. Sang Ustadz tengah menghujamkan sebuah pusaka raksasa berwarna hitam legam yang ukurannya jauh melebihi milik Kasimmenembus rahim istrinya dengan kecepatan dan kebuasan seekor binatang buas.
Plak! Plak! Plak!
Suara benturan pangkal paha legam dan pantat sintal istrinya terdengar hingga ke luar jendela.
Kasim membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya yang gemetar parah. Kakinya lemas. Ia ingin berteriak, ingin mendobrak pintu, ingin membunuh pria itu. Namun, pemandangan selanjutnya benar-benar meremukkan jiwa kelaki-lakiannya.
"Ahhh... Ustadzhh... ahhh... dalam bangettt... hhh... Nisa mati rasa Ustadzhh..." rintihan binal istrinya terdengar begitu jelas. Nisa tidak menolak. Nisa tidak diperkosa. Istrinya itu justru memundurkan pinggulnya, menyambut setiap hentakan ganas sang majikan dengan goyangan pinggul yang tak pernah sekalipun Nisa tunjukkan saat mereka berhubungan suami istri. Payudara Nisa berguncang liar, wajahnya menoleh ke samping, memperlihatkan ekspresi kenikmatan gila yang menghancurkan hati Kasim berkeping-keping.
"Bandingkan aku dengan Kasim, Nisa! Siapa yang bisa memuaskan rahimmu?!" geram Hartono dari dalam, memompa dengan tenaga banteng.
"Ustadzhhh!! Ustadz Hartono!! Aaaahh!! Kasim lemah!! Kasim nggak bisa bikin Nisa kayak gini!! Sodok terus Ustadz!! Tembus perut Nisa!! Aaaaaahhhh!!"
Jawaban Nisa, makian kotor yang keluar dari mulut istrinya itu, adalah paku terakhir yang menancap di peti mati harga diri Kasim.
Dunia Kasim runtuh. Air mata mengalir deras dari matanya yang merah. Dadanya sesak luar biasa, napasnya tercekik. Ia, seorang suami yang banting tulang, ternyata tak lebih dari sekadar lelucon di mata istrinya. Istrinya mendambakan keperkasaan sang majikan, menyerahkan mahkotanya di atas meja kerja di siang bolong, dan merendahkan suaminya sendiri dengan desahan nikmat.
"T-Tidak... Nisa... Astaghfirullah..." bisik Kasim parau, terisak tanpa suara di balik kaca.
Ia tidak sanggup lagi menonton istrinya menjerit orgasme di bawah hujaman pria lain. Kasim melangkah mundur dengan terhuyung-huyung. Ia berbalik, menjauhi jendela itu. Langkahnya gontai, pandangannya kabur tertutup air mata dan keringat dingin.
Saat ia berjalan ke samping bangunan kantor, bersandar pada dinding kayu, kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya. Rasa sakit hati, pengkhianatan, dan kehancuran ego laki-laki menghantam jantungnya secara bersamaan. Dunia berputar cepat di kepala Kasim. Ia tergelincir jatuh ke atas tanah berumput, memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Napasnya terputus, dan kegelapan akhirnya mengambil alih kesadarannya. Suami malang itu jatuh pingsan di samping bangunan, ditemani bayangan pengkhianatan yang akan terus menghantuinya.
Sementara di luar seorang suami mati secara batin, di dalam ruangan, pesta syahwat itu terus membara tanpa ampun.
Hartono tidak tahu dan tidak peduli jika ada yang mengintip. Ia sedang berada di puncak kekuasaannya. Ia menarik pusakanya keluar, lalu membalikkan tubuh Nisa hingga wanita itu berbaring telentang di atas meja kerja.
Nisa terengah-engah. Daster batiknya sudah benar-benar ia lepaskan. Kulit tembaganya berkilat indah. Mahkota kewanitaannya membengkak dan merah merekah akibat gempuran dari belakang.
"Bersiaplah, Istri Kasim. Ini ronde kedua," geram Hartono.
Ia mengangkat kedua paha Nisa yang berotot, meletakkannya di atas bahu kekarnya. Posisi ini (pounding) membuka akses gerbang mahkota Nisa secara maksimal. Hartono mengarahkan kepalanya dan menancapkan senjatanya kembali ke dalam rahim wanita itu.
"AKANGHHH!!! AAAAA!!!" Nisa menjerit histeris. Rasa penuh yang luar biasa padat dan menyakitkan seketika merobek dinding rahimnya yang sempit. Tubuhnya terdorong ke belakang meja. Kuku-kukunya mencakar permukaan kayu jati. Benda raksasa itu menjejalinya hingga tidak ada satu milimeter pun ruang yang tersisa.
Hartono tidak memberi jeda. Ia langsung menarik pinggulnya ke belakang dan menghunjamkannya dengan kecepatan brutal.
Plakk! Plakk! Plakk! Plakk!
"Ahhh! Ahhh! Ahhh! Ustadzhhh! Dalam sekalihhh! Ohhh! Rahimku mau tembus rasanyahh... akhhh!" Nisa merintih, payudaranya yang besar berguncang liar tak terkendali.
"Teriak yang keras, Nisa! Lupakan Kasim! Laki-laki kurus itu tidak bisa memberimu kenikmatan seperti ini!" Hartono terus memacu tubuhnya, keringat menetes dari ujung hidungnya jatuh membasahi perut Nisa.
Pertempuran ronde kedua itu berlangsung sangat beringas. Nisa, dengan staminanya yang bugar, membalas setiap hentakan Hartono dengan goyangan pinggul ke atas, menyambut monster itu agar masuk lebih dalam lagi. Tiga puluh menit berlalu dengan penuh keringat dan desahan panjang.
Hingga akhirnya, Nisa mencapai puncaknya yang ketiga, rahimnya menjepit erat kejantanan Hartono dengan getaran yang tak putus-putus. Jepitan maut itu menghancurkan pertahanan sang Ustadz.
"ARRRGH!!! NISA... TERIMA INI!!!"
Hartono menekan pinggulnya sedalam mungkin dan menembakkan lahar panasnya yang pertama. Semburan sperma yang sangat banyak, kental, dan mendidih itu menghantam dinding rahim Nisa bertubi-tubi, mengisi kekosongan batin wanita kelas pekerja itu dengan cairan kehidupan pria ningrat.
"AHHHH!!! PANASHHH USTADZ!!! AHHH... PENUHH... MMMGH..." Nisa mengejang, air mata kenikmatan menetes dari sudut matanya saat perut bawahnya terasa hangat dan membesar. Ia merengkuh leher Hartono, mengecup rahang pria itu dengan penuh rasa syukur.
Keduanya terengah-engah. Hartono menarik senjatanya perlahan, membiarkan bunyi pop basah menggema di ruangan itu. Sisa cairan kental menetes dari mahkota Nisa ke atas meja kerja.
Hartono merapikan pakaiannya dengan cepat. "Rapikan dirimu, Nisa. Aku harus turun ke pabrik pengolahan bawah."
Nisa, dengan kaki yang gemetar parah, turun dari atas meja. Ia mengenakan kembali pakaian dalamnya yang sudah robek sebagian, memakai daster batiknya, dan menyematkan hijab bergonya. Ia mengecup punggung tangan Hartono dengan takzim. "Terima kasih, Ustadz... Nisa pulang dulu ke warung."
Nisa berjalan keluar dari kantor, langkahnya sedikit mengangkang untuk menyamarkan rasa perih di antara kedua pahanya. Ia melangkah ringan, tak menyadari bahwa di samping bangunan, suaminya tergeletak pingsan dengan hati yang telah hancur lebur.
Bagi Ustadz Hartono, ini hanyalah rutinitas siang hari yang memuaskan. Namun bagi Kasim, ini adalah akhir dari kehidupannya sebagai seorang lelaki. Di bawah panas matahari Sindanghalimun, iblis berjubah agama itu terus menari di atas penderitaan umatnya.
ns216.73.217.39da2


