Matahari bersinar terik di atas langit pinggiran Kota Bekasi, memanggang aspal jalanan Kampung Margahayu. Di tengah lalu lalang motor dan gerobak pedagang, Ridwan melangkah dengan sepasang sepatu kanvas yang solnya mulai menipis. Pemuda dua puluh empat tahun itu menyeka peluh di dahi dengan punggung tangannya yang kasar. Kulit sawo matangnya berkilat terbakar matahari, namun sorot matanya yang teduh menyiratkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Bismillah..." gumam Ridwan pelan. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat tujuannya.
Ia tidak tahu banyak tentang Margahayu. Yang ia tahu, dari secarik surat usang milik mendiang ayahnya di desa, ibunya berasal dari daerah ini. Sejak kedua orang tuanya bercerai saat ia masih balita, Ridwan dibawa ayahnya jauh ke pelosok, hidup dalam kesederhanaan yang perih. Kini, setelah ayahnya berpulang, ia sebatang kara. Berbekal ilmu agama dari surau desa dan tenaga mudanya, Ridwan nekat menginjakkan kaki di tanah ini.
Langkah Ridwan terhenti di depan sebuah tiang listrik. Matanya yang tajam menangkap selembar brosur yang ujungnya sudah melambai tertiup angin: Menerima Kos Karyawan/Mahasiswa VIP.
Ridwan meraba saku celananya. Uangnya tinggal sedikit, tapi ia butuh tempat merebahkan badan malam ini. Ia mengikuti alamat di brosur itu, masuk ke sebuah gang yang cukup lebar, hingga tiba di depan sebuah bangunan megah bergaya minimalis modern dengan gerbang besi menjulang. Di sebelahnya, terdapat sebuah rumah pribadi yang tak kalah mewah, dipisahkan oleh taman kecil yang asri.
"Permisi... Assalamualaikum," suara bariton Ridwan yang lembut mengalun dari balik pagar.
Tak lama, seorang wanita paruh baya dengan daster rapi keluar dari rumah sebelah. Bi Inah, usianya sekitar awal empat puluhan, menatap Ridwan dari atas ke bawah.
"Waalaikumsalam. Cari siapa, Jang?" tanya Bi Inah. "Punten, Ibu. Saya Ridwan. Saya lihat brosur di depan gang, katanya ada kamar kos kosong. Apakah masih ada, Bu?" Ridwan menundukkan kepalanya sedikit, tersenyum sopan.
Bi Inah tertegun sejenak. Pemuda di hadapannya ini tampak kucel dan berdebu, tapi wajahnya sangat bersih dan tutur katanya begitu halus. "Aduh, Jang. Kalau kosan mah udah penuh semua dari minggu lalu. Lagian ini kosan VIP, harganya lumayan," jawab Bi Inah jujur.
Mata Ridwan sedikit meredup, namun senyumnya tak pudar. "Oh, begitu ya, Bu. Maaf sudah mengganggu waktunya. Kalau begitu saya permisi"
"Tunggu sebentar, Bi. Siapa di depan?"
Sebuah suara wanita yang sangat merdu, lembut namun berwibawa, menghentikan langkah Ridwan. Dari balik pintu rumah mewah itu, keluarlah Maya.
Ridwan menelan ludah, namun buru-buru menundukkan pandangannya. Maya adalah definisi wanita dewasa yang sempurna. Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, janda tanpa anak itu memancarkan pesona yang matang. Ia mengenakan gaun rumahan berbahan sutra warna navy yang jatuh pas membalut lekuk tubuhnya yang sintal dan terawat. Kulitnya putih bersih kontras dengan rambut hitam lurus yang dibiarkan terurai.
"Ini, Nyonya. Ada pemuda cari kamar kos, tapi kan sudah penuh," jelas Bi Inah.
Maya berjalan mendekat ke pagar. Matanya yang tajam bak elang menilai Ridwan. Di balik kemeja flanel usang yang kebesaran itu, Maya bisa melihat postur bahu yang sangat tegap dan dada yang bidang. Sesuatu dari cara Ridwan berdiri tegap namun penuh kerendahan hati menarik perhatian Maya.
"Siapa namamu?" tanya Maya. "Ridwan, Nyonya," jawab Ridwan tanpa berani menatap langsung ke mata Maya. "Mohon maaf jika saya mengganggu ketenangan Nyonya. Saya hanya sedang mencari tempat tinggal."
"Kamu merantau?" "Iya, Nyonya. Saya dari desa. Tujuan saya kemari selain mencari kerja, juga untuk mencari keberadaan ibu kandung saya."
Ada getar kejujuran dalam suara bariton itu yang membuat hati Maya tersentuh. Kebetulan sekali, ia memang sedang pusing mencari penjaga kos yang bisa diandalkan. Penjaga sebelumnya sering mabuk dan tak sopan.
"Kosan saya sudah penuh, Ridwan. Dan sepertinya harganya tidak akan cocok untukmu," kata Maya pelan, matanya tak lepas dari wajah tampan pemuda itu. "Tapi... saya sedang butuh seorang penjaga kos. Tugasnya membersihkan area luar, jaga gerbang, dan bantu-bantu perbaikan kecil. Kamu bersedia?"
Ridwan mendongak, matanya berbinar cerah. "Alhamdulillah! Saya bersedia, Nyonya. Saya terbiasa kerja kasar, apa saja saya kerjakan."
"Kamu bisa tinggal di kamar gudang belakang kos. Memang tidak besar, tapi layak, dan listrik air gratis. Gajimu nanti kita bicarakan. Bagaimana?" tawar Maya.
"Lebih dari cukup, Nyonya. Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan Nyonya," ucap Ridwan tulus, membuat Maya merasakan desiran aneh di dadanya melihat senyum pemuda polos itu.
Seminggu berlalu. Ridwan bekerja dengan sangat rajin. Halaman kos yang tadinya sering berdaun kering kini selalu bersih. Selokan lancar. Bahkan tanaman hias Maya di rumah sebelah tumbuh lebih subur di tangan Ridwan. Maya sering diam-diam memperhatikan pemuda itu dari balik tirai jendela kamarnya di lantai dua, terpesona oleh keringat yang membasahi otot lengan Ridwan saat ia sedang menebang dahan pohon yang mengganggu kabel.
Namun, ujian sebenarnya bagi pertahanan hati Maya datang di malam minggu yang basah.
Hujan badai mengguyur Margahayu. Petir menyambar dengan kilat yang membutakan, disusul gelegar guntur yang menggetarkan kaca jendela. Ridwan sedang duduk di pos jaga kecil di depan gerbang kos, membaca buku tuntunan salat, ketika tiba-tiba lampu di rumah besar Maya padam total. Namun, anehnya, bangunan kos tetap benderang.
Dari balik jas hujan plastiknya, Ridwan melihat Bi Inah berlari menembus hujan menuju pos jaga dengan wajah panik. "Ridwan! Jang! Tolongin, rumah Nyonya mati lampu! Kayaknya meterannya jeglek atau ada korslet di gardu samping!" teriak Bi Inah melawan suara hujan. "Siap, Bi! Biar Ridwan cek ke samping rumah Nyonya!"
Tanpa pikir panjang, Ridwan melempar jas hujannya karena benda itu justru menghambat geraknya untuk memanjat dinding pembatas di mana boks sekring utama berada. Hujan lebat langsung menghantam tubuhnya. Kaos katun putih tipis yang ia kenakan basah kuyup dalam hitungan detik.
Di teras rumahnya yang gelap, Maya berdiri memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, ditemani cahaya senter ponsel. Matanya terbelalak melihat Ridwan bekerja di tengah badai. Pemuda itu dengan cekatan mengecek boks sekring.
Kaos putih yang basah kuyup itu kini melekat sempurna, mencetak setiap lekuk otot di punggung, bahu, dan perut Ridwan bagaikan pahatan patung Yunani. Air hujan mengalir dari rambut hitamnya, melewati rahangnya yang tegas, dan menetes ke lehernya. Pemandangan maskulin yang liar dan tak terduga itu membuat napas Maya tiba-tiba tertahan.
Cetak! Lampu rumah kembali menyala terang. Ridwan melompat turun dengan ringan, napasnya sedikit terengah.
"Sudah menyala, Nyonya! Tadi ada ranting yang jatuh kena kabel kecilnya, jadi korslet!" lapor Ridwan sambil mengusap air dari wajahnya.
Maya terpaku. Di bawah cahaya lampu teras yang terang, pemandangan tubuh Ridwan semakin jelas. Kaosnya menjadi sangat transparan, dan Maya bisa melihat dada bidang pemuda itu naik turun. Maya menelan ludah, berusaha menguasai suaranya agar tidak terdengar gemetar.
"Ya Tuhan, Ridwan. Kamu basah kuyup. Kamu bisa sakit," ucap Maya, melangkah maju. "Masuklah. Mandi pakai air hangat di kamar mandi tamu. Bi Inah, tolong buatkan teh hangat dan siapkan handuk bersih!"
"Eh... tidak usah repot-repot, Nyonya. Saya mandi di belakang saja" "Ini perintah, Ridwan. Jangan membantah. Masuk," potong Maya dengan nada mutlak, meski jantungnya berdebar sangat kencang.
Ridwan yang sungkan akhirnya menurut. Ia masuk ke dalam rumah mewah itu dengan hati-hati, takut meneteskan air ke lantai marmer yang mengkilap.
Kamar mandi tamu di rumah Maya ukurannya jauh lebih besar dari kamar kos Ridwan. Semuanya terbuat dari batu alam dan kaca. Ridwan melepas pakaiannya yang basah, menyalakan pancuran air hangat, dan membiarkan air membasuh lelah dari tubuhnya.
Di ruang tengah, Maya berjalan mondar-mandir. Ia ingat Ridwan tidak membawa baju ganti. Ia bergegas ke lantai atas, membuka lemari pakaian lamanya, dan mengambil kaos polos hitam serta celana panjang santai milik mantan suaminya yang tertinggal. Baju itu ukurannya cukup besar, seharusnya muat untuk Ridwan.
Maya turun membawa pakaian itu, bermaksud menaruhnya di keranjang depan kamar mandi. Ia melangkah mendekat. Sayup-sayup terdengar suara gemericik air.
Langkah Maya terhenti tepat di depan pintu. Pintu kayu jati itu rupanya tidak tertutup rapat, menyisakan celah sekitar tiga jari karena sistem hidroliknya sedikit macet.
Maya berniat mengetuk, namun tangannya melayang di udara. Matanya tanpa sengaja mengintip melalui celah itu.
Jantung Maya seakan berhenti berdetak.
Di balik bilik kaca yang setengah berembun, Ridwan baru saja mematikan pancuran air. Pemuda itu berdiri menyamping. Maya membelalakkan matanya, napasnya tercekat di tenggorokan. Postur tubuh Ridwan benar-benar luar biasa. Kulit sawo matangnya mengkilap oleh sisa air. Otot perut dan pinggulnya tergambar sempurna.
Namun, yang membuat kewarasan Maya seakan runtuh adalah ketika Ridwan meraih handuk dan melilitkannya di pinggang dengan gerakan santai. Saat ia berbalik sejenak untuk mengambil sabun yang jatuh, handuk itu sedikit tersingkap, dan walau hanya sekilas, Maya melihat proporsi kejantanan pemuda itu yang luar biasa besar dan kokoh di balik balutan handuk yang basah. Aura dominan dan keperkasaan murni menguar dari sosok pemuda desa yang polos itu.
Wajah Maya seketika memerah padam. Gelombang panas yang dahsyat tiba-tiba menghantam tubuhnya, menjalar cepat dari perut ke bagian bawah tubuhnya. Ia merasakan denyutan nyeri yang manis, sesuatu yang sudah lima tahun terkubur dalam-dalam sejak ia bercerai. Hasratnya bangkit seketika, begitu liar dan mendesak, membuat area kewanitaannya berembun lebat seketika. Kakinya terasa lemas seperti jelly.
Ya Tuhan... apa yang aku pikirkan? Dia anak baik-baik, Maya! batinnya menjerit, mencoba melawan nafsu yang meronta.
Sebagai wanita terhormat, Maya langsung membekap mulutnya sendiri agar desahan napasnya tak terdengar. Dengan tangan gemetar, ia menaruh pakaian itu di kursi kecil dekat pintu, lalu bergegas pergi dari sana dengan langkah setengah berlari. Ia mengunci diri di dapur, menyandarkan tubuhnya di meja pantry, dan memegangi dadanya yang naik turun dengan liar.
"Tenang, Maya... tenang..." bisiknya pada diri sendiri, sambil memejamkan mata. Namun, bayangan tubuh Ridwan yang kekar dan gagah itu justru semakin tercetak jelas di otaknya.
Sepuluh menit kemudian, Ridwan keluar dari arah lorong kamar mandi. Ia mengenakan kaos hitam dan celana mantan suami Maya. Baju itu pas menempel di dada bidangnya, membuat penampilannya terlihat sangat berbeda jauh dari kesan buruh kasar, melainkan seperti pria muda mapan yang sangat tampan.
Maya yang sudah kembali ke ruang tengah, duduk di sofa dengan secangkir teh menutupi wajahnya yang masih sedikit merona.
"Nyonya..." sapa Ridwan pelan. "Terima kasih banyak atas pinjaman bajunya. Dan maaf, saya kelamaan."
Maya meletakkan cangkirnya, berusaha memasang wajah setenang mungkin. "Duduklah, Ridwan. Minum tehmu. Bi Inah sudah membuatkan camilan juga."
Ridwan duduk di sofa seberang dengan canggung. Ia menjaga jarak, duduk di ujung sofa dengan punggung tegak. Tangannya meraih cangkir teh hangat itu perlahan.
"Baju itu sepertinya pas di tubuhmu," kata Maya pelan, matanya tak bisa menahan diri untuk tidak menyusuri lengan Ridwan yang kokoh. "Itu milik mantan suamiku."
"Astaghfirullah, Nyonya. Maaf kalau saya lancang memakainya," Ridwan sedikit terkejut.
Maya tersenyum tipis, senyum yang sangat manis dan elegan. "Tidak apa-apa. Lagipula baju itu sudah tidak terpakai. Kamu dari tadi memanggilku Nyonya. Usiaku tiga puluh satu, Ridwan. Cukup panggil aku Mbak Maya, atau Ibu Maya jika kamu mau. Nyonya terdengar terlalu kaku."
"Baik... Mbak Maya," ucap Ridwan, lidahnya terasa kelu mengucapkan nama wanita cantik itu secara langsung.
Suara hujan di luar masih deras, menciptakan suasana yang sangat intim di ruang keluarga yang remang itu. Maya menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat.
"Seminggu yang lalu saat dirimu datang kemari, kamu bilang ingin mencari ibumu. Boleh aku tahu ceritanya?" tanya Maya dengan nada lembut yang menenangkan.
Ridwan menunduk menatap cangkirnya. Bayangan masa lalunya membuat raut wajahnya berubah sendu. "Orang tua saya berpisah saat saya masih kecil sekali, Mbak. Bapak membawa saya ke desa, menjauh dari kota. Bapak tidak pernah banyak cerita tentang Ibu, katanya Ibu memilih jalannya sendiri di sini, di Margahayu. Sampai Bapak meninggal bulan lalu, beliau hanya meninggalkan sepucuk surat lama dan alamat kelurahan ini."
Ridwan menghela napas panjang, ada kepedihan di sana. "Saya tidak punya foto beliau, tidak tahu wajahnya. Tapi saya percaya, surga ada di telapak kaki ibu. Sebelum saya mati, saya ingin mencium tangannya, meminta ridanya. Makanya saya nekat ke sini, walau harus kerja serabutan, jadi kuli, atau penjaga kos seperti sekarang."
Mendengar penuturan itu, hati Maya berdesir hebat. Bukan hanya karena iba, tapi kekaguman yang luar biasa. Di saat pemuda seusianya sibuk mencari kesenangan dan berbuat nakal, Ridwan justru memiliki hati seputih malaikat dan bakti yang begitu besar. Kontras antara kepolosan hatinya dengan keperkasaan fisik yang Maya lihat di kamar mandi tadi membuat kewarasan Maya hampir terbelah dua.
Di luar, Maya memasang ekspresi simpati yang mendalam. "Kamu anak yang sangat berbakti, Ridwan. Aku yakin, cepat atau lambat, Tuhan akan menuntunmu bertemu dengan ibumu."
Namun, di dalam kepala Maya, insting kewanitaannya yang lapar berbicara lain. Saat menatap bibir Ridwan yang bergerak menceritakan kisah sedihnya, imajinasi liar Maya justru membayangkan bagaimana rasanya dibungkam oleh bibir pemuda itu. Maya membayangkan bagaimana jika tubuh kekar dan tulus itu berada di atasnya, mendominasinya tanpa ampun, menyentuh titik-titik sensitif yang sudah lama membeku, dan mengisi kekosongan rahim serta jiwanya dengan ketangguhan yang memabukkan.
Hasrat itu membuat napas Maya kembali sedikit memburu. Ia menyilangkan kakinya, merapatkan pahanya untuk meredam kedutan nikmat yang mengganggunya.
"Amin. Terima kasih banyak, Mbak Maya, atas kebaikannya menerima saya di sini," ucap Ridwan memecah lamunan kotor Maya. Ia meletakkan cangkirnya yang sudah kosong. "Tehnya sangat enak. Kalau begitu, saya permisi pamit kembali ke belakang, Mbak. Takutnya nanti ada apa-apa di depan."
Ridwan berdiri, menunduk sopan.
Maya ikut berdiri, menahan gejolak di dadanya. "Sama-sama, Ridwan. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan mengetuk pintu rumah ini."
"Baik, Mbak Maya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam."
Maya menatap punggung tegap Ridwan yang berjalan keluar meninggalkan rumahnya. Pintu tertutup perlahan, diiringi suara guruh di kejauhan. Begitu bayangan Ridwan menghilang, Maya menyandarkan tubuhnya di pintu yang tertutup. Tangannya meremas gaun sutranya di bagian dada.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Maya merasa benar-benar hidup sebagai seorang wanita. Dan malam badai itu, hanyalah awal dari sesuatu yang tak akan pernah bisa ia kendalikan lagi.
ns216.73.216.66da2


