Beli paket subscription yang mana saja untuk baca cerita ini, jauh lebih hemat57Please respect copyright.PENANAYPXRCG3ikM
57Please respect copyright.PENANAoCWE6zkjl2
57Please respect copyright.PENANAjCgdtatA2C
Dulu, sebelum menikah, aku punya mimpi yang cukup tinggi untuk terbang tinggi bersama pesawat. Aku belajar bahasa asing dan melatih fisikku agar bisa menjadi seorang pramugari yang membawa penumpang melintasi samudera. Namun, tepat sebelum hari kelulusanku, Mas Bram memintaku untuk melepas semua itu dan fokus menjadi ibu rumah tangga saja.
Dia bilang, wanita yang baik adalah wanita yang bisa mengurus rumah dengan sempurna tanpa harus kelelahan bekerja di luar sana. Tanpa banyak bantahan, aku melipat seragam impianku dan memilih untuk menetap di dapur.
57Please respect copyright.PENANAeNiReSvYlP
Kehidupanku sekarang hanya berputar antara pasar, dapur, dan masjid dekat rumah untuk mengikuti kajian rutin. Aku merasa cukup dengan rutinitas ini, meskipun terkadang ada rasa hampa yang menyelinap saat melihat teman-teman lamaku mengunggah foto perjalanan mereka. Aku meyakinkan diriku bahwa pengorbanan ini adalah bentuk ibadah dan ketaatan seorang istri kepada suaminya. Selama aku bisa melayani Mas Bram dengan baik, aku percaya surga akan terbuka lebar untukku nanti. Aku tidak pernah merasa keberatan, karena cinta bagiku adalah tentang memberi tanpa perlu meminta kembali.
57Please respect copyright.PENANAqPYaIKeudj
Namun, cinta yang kupahami ternyata memiliki sisi yang menyakitkan. Mas Bram adalah pria yang hangat saat suasana hatinya sedang baik, tapi bisa berubah menjadi badai dalam sekejap. Hal-hal kecil seperti rasa sayur yang terlalu asin atau jemuran yang terlambat diangkat bisa memicu amarahnya. Tak jarang, tangannya mendarat di pipiku atau kata-kata kasar meluncur dari bibirnya tanpa saringan. Aku hanya bisa terdiam dan meminta maaf, meyakini bahwa ini adalah ujian kesabaran bagi seorang istri. Aku percaya bahwa jika aku lebih sabar lagi, Mas Bram akan perlahan berubah menjadi pria yang lembut.
57Please respect copyright.PENANAUX3pKlGvZU
"Kamu ini otak atau cuma hiasan di kepala?" Suara Mas Bram menggelegar, memantul di dinding ruang tengah yang sunyi. Kata-kata itu biasanya jadi pembuka sebelum rentetan makian lain yang lebih tajam menghujam jantungku. Aku sering dipanggil perempuan bodoh, monyet, sampai disebut perempuan bajingan hanya karena aku lupa menutup rapat stoples gula.
Dia tidak pernah membiarkan satu kesalahan kecil lewat begitu saja tanpa memberi label buruk pada diriku. Baginya, aku bukan sekadar istri, melainkan sasaran empuk untuk membuang semua kekesalan dunianya. Aku hanya bisa menunduk, menghitung butiran debu di lantai sambil berharap amarahnya cepat reda.
57Please respect copyright.PENANABV2v51Gtfu
Puncaknya terjadi minggu lalu saat aku mencoba merapikan kemeja kerja favoritnya yang berwarna biru pucat. Karena terlalu melamunkan doa-doa yang kupanjatkan, ujung setrikaku terlalu lama menempel pada kain itu hingga meninggalkan bekas cokelat yang membandel. Begitu Mas Bram melihatnya, dia tidak hanya berteriak, tapi juga menghampiriku dengan tatapan yang mengerikan. "Dasar Marni lacur!" teriaknya tepat di depan wajahku, membawa nama ibuku ke dalam makian yang menjijikkan. Aku tertegun, merasa harga diriku hancur berkeping-keping karena nama wanita yang paling kuhormati kini disejajarkan dengan kata-kata kotor.
57Please respect copyright.PENANAuL66MGtoQ8
Aku mencoba meminta maaf dengan suara bergetar, namun itu justru membuatnya semakin murka. Tangannya mendarat keras di pipiku, meninggalkan rasa panas yang menjalar hingga ke telinga. Aku tidak melawan, hanya diam membeku sambil memegang kemeja yang sudah rusak itu dengan tangan gemetar. Bagiku, rasa sakit fisik ini masih bisa kuterima asalkan aku bisa memperbaiki semuanya. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin aku memang kurang teliti, sehingga Mas Bram merasa perlu mengingatkanku dengan cara yang keras. Namun, jauh di dalam hati, ada sesuatu yang mulai retak dan tak bisa lagi direkatkan.
57Please respect copyright.PENANAA0VQayMiiR
Dalam kesunyian setelah badai itu, aku sering menghabiskan waktu di sudut kamar, memeluk lutut sambil menatap langit-langit. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah benar ketaatan berarti harus menerima semua hinaan ini sebagai bagian dari ibadah. Aku rindu rasa dihargai, rindu dipandang sebagai manusia yang memiliki perasaan, bukan sekadar pelayan di rumah sendiri.
Setiap kali aku melihat cermin, aku merasa asing dengan sosok wanita tinggi dengan lekukan tubuh yang sering dipuji orang luar, namun dianggap sampah oleh suaminya. Kehampaan itu perlahan berubah menjadi rasa lapar akan kasih sayang yang tidak pernah kudapatkan dari Mas Bram.
57Please respect copyright.PENANA2J4thkFui9
---
57Please respect copyright.PENANAGZkIuIubtY
"Jangan nangis lagi, ya? Aku janji nggak bakal kasar lagi," bisik Mas Bram sambil mengecup keningku dengan lembut. Mas Bram pasti mengucapkan itu setelah ia memaki-makiku.
57Please respect copyright.PENANAZEKdP1MTFL
Lucunya, perubahan sikapnya selalu terjadi secepat kilat, tepat setelah badai makian dan tamparannya reda. Dia akan berubah menjadi pria paling romantis yang pernah kukenal, memelukku erat seolah aku adalah harta paling berharga dalam hidupnya. Awalnya, aku selalu terkejut dan terisak hebat, merasa bingung bagaimana bisa pria yang baru saja menghinaku bisa menjadi begitu manis.
57Please respect copyright.PENANAlyTJkrEku9
Dia akan membujukku dengan kata-kata manis, menghapus air mataku, dan meyakinkanku bahwa dia melakukan semua itu karena terlalu mencintaiku. Namun, seiring berjalannya waktu, mataku tidak lagi basah saat dia meminta maaf. Hatiku sudah terlalu hampa untuk memberikan reaksi yang sama, dan aku mulai menganggap siklus ini sebagai hal yang normal.
57Please respect copyright.PENANAjhfkSiG7Vy
Setelah sesi permintaan maaf yang dramatis itu, Mas Bram biasanya akan mulai mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Dia akan mengelus pinggangku, menatapku dengan tatapan lapar yang sudah sangat kukenal. Tanpa basa-basi, dia akan mengajakku untuk berhubungan intim, bahkan saat hatiku masih terasa hancur berkeping-keping. "Ayo, kita ngentot sekarang, ya?" ucapnya blak-blakan sambil menarikku ke tempat tidur. Baginya, seks adalah cara tercepat untuk menutup luka dan menghapus rasa bersalah yang mungkin sempat mampir di kepalanya. Meskipun aku masih merasa sakit di pipi atau sesak di dada, aku tetap menurutinya tanpa bantahan.
57Please respect copyright.PENANAU75Yg2HK2S
Aku menerima semua sentuhannya dengan pasrah, membiarkan dia mengambil apa pun yang dia inginkan dari tubuhku. Bagiku, menuruti keinginan seksual suami adalah bagian dari kewajibanku sebagai istri yang salehah. Aku hanya terdiam, menatap langit-langit kamar sambil merasakan berat tubuhnya menindihku. Ada rasa kosong yang menganga lebar di dalam diriku, sebuah ruang yang tidak bisa diisi hanya dengan gairah fisik yang meledak-ledak.
57Please respect copyright.PENANAvPUycBQNQA
Aku merasa seperti boneka yang hanya bisa mengangguk dan mengikuti arus, melakukan segala hal demi menjaga kedamaian rumah tangga kami.
57Please respect copyright.PENANAt5xZwwL864
Setelah semuanya selesai, Mas Bram akan tertidur pulas dengan senyum puas di wajahnya, sementara aku tetap terjaga dalam kesunyian. Aku sering bertanya-tanya, apakah cinta memang seharusnya terasa seperti ini, seperti sebuah transaksi antara rasa sakit dan kenikmatan singkat.
Aku merasa terperangkap dalam sebuah lingkaran yang tidak ada ujungnya, di mana aku harus hancur terlebih dahulu untuk bisa dicintai kembali. Rasa haus akan kasih sayang yang tulus semakin menjadi-jadi, namun aku tidak tahu harus mencari jawaban di mana. Aku hanya bisa memeluk diriku sendiri, mencoba meyakinkan hati bahwa ini semua adalah bagian dari ujian kesabaran yang harus kulewati.
57Please respect copyright.PENANAFH8IS5pggI
57Please respect copyright.PENANAtSro8w9Rf7
Di momen-momen hampa seperti itu, aku sering bertanya-tanya dalam hati apakah rumah tangga seperti ini sebenarnya normal. Jujur saja, aku tidak pernah berumah tangga sebelumnya jadi aku tidak punya pembanding untuk tahu mana yang wajar dan mana yang tidak. Setelah menikah, aku hampir tidak pernah bergaul dengan siapapun, bahkan dengan teman-teman dekatku dulu. Mas Bram melarangku bermain jauh-jauh dengan alasan yang tidak pernah jelas, seolah-olah dunia luar adalah tempat berbahaya bagiku. Aku hanya bisa mengintip kehidupan mereka lewat layar ponsel, melihat unggahan foto teman-temanku yang tampak tertawa bahagia. Apa mungkin suami-suami mereka juga bersikap kasar seperti Mas Bram? Entahlah, aku tidak pernah tahu pasti karena duniaku kini hanya sebatas dinding rumah dan teras masjid.
57Please respect copyright.PENANAwatsjBVq7d
Fokus utamaku sekarang sebenarnya hanya satu, yaitu ingin sekali memiliki seorang anak. Meski Mas Bram sering sekali mengajakku berhubungan intim, entah kenapa sampai detik ini aku belum juga hamil. Aku tidak sampai hati untuk meragukan kejantanan Mas Bram atau berpikir macam-macam kalau dia itu mandul. Mungkin memang aku yang mandul, atau mungkin Tuhan masih ingin menguji kesabaranku sedikit lebih lama lagi. Aku hanya bisa terus berdoa sambil berharap suatu hari nanti ada suara tangis bayi yang mengisi kekosongan di rumah ini. Aku hanya ingin bahagia, meskipun definisi bahagia bagiku saat ini terasa sangat sederhana dan jauh.
57Please respect copyright.PENANA47ZcY1WwBE
----
57Please respect copyright.PENANAiEyYLNVuAP
57Please respect copyright.PENANA116NUsHKK0
Mas Bram itu sebenarnya laki-laki yang lumayan ganteng kalau saja dia bisa mengontrol emosinya. Dia bekerja sebagai staf biasa di sebuah kantor swasta dengan seragam yang selalu kusetrika rapi setiap malam. Setiap pagi, dia berangkat kerja menggunakan motor matic yang cicilannya baru saja lunas minggu lalu, alhamdulillah.
Aku selalu mengantarnya sampai depan pagar dengan senyuman, berharap hari ini suasana hatinya akan tetap stabil. Namun, kegantengan wajahnya itu seolah tertutup oleh sifat narsis yang sering kali membuatku merasa kecil di hadapannya. Bagiku, dia adalah pemimpin rumah tangga yang harus kupatuhi, meski terkadang aku merasa lebih seperti pelayan daripada seorang istri.
57Please respect copyright.PENANABzyUzBL1bc
Dia sering pulang terlambat dengan berbagai alasan, mulai dari pekerjaan yang menumpuk sampai urusan main bersama teman-teman kantornya. Aneh rasanya melihat bagaimana dia bisa menikmati kebebasan sebagai kepala keluarga, sementara aku dilarang keras untuk sekadar berkunjung ke rumah tetangga. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk tertawa bersama rekan-rekannya, tapi aku harus tetap berada di dalam rumah, menunggu dalam kesunyian. Aku sering bertanya-tanya kenapa standar kebebasan di rumah kami begitu berbeda. Rasanya seperti ada pagar tak kasat mata yang memenjarakanku di antara tembok dapur dan ruang tengah.
57Please respect copyright.PENANAsPL1F48T0R
Saat dia pulang telat, suasana rumah biasanya berubah menjadi tegang dan mencekam. Alih-alih membawa kabar bahagia, yang kudapatkan sering kali adalah rentetan makian atau hinaan tentang betapa membosankannya hidupku di rumah. Terkadang, jika ada hal kecil yang tidak sesuai keinginannya, tamparan keras akan mendarat di pipiku tanpa peringatan.
Aku hanya bisa terdiam dan menerima semua amarahnya, berusaha tetap tenang agar badainya cepat berlalu. Baginya, kemarahannya adalah cara untuk mendominasi, sementara diamku adalah bentuk ketaatan yang dia harapkan.
57Please respect copyright.PENANAGKjF5pUjgo
Namun, setelah semua amarahnya reda, Mas Bram akan berubah drastis menjadi pria yang penuh gairah. Dia akan mendekatiku, memohon untuk berhubungan intim dengan permintaan yang semakin aneh dari hari ke hari. Dia sering memintaku melakukan berbagai posisi baru yang dia pelajari, seperti gaya *doggy style* yang membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku merasa seperti bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar objek pemuas nafsu yang harus mengikuti semua skenarionya. Aku tahu Mas Bram sering menonton video porno di ponselnya diam-diam, dan sekarang aku sadar bahwa semua gaya itu terinspirasi dari sana.
57Please respect copyright.PENANASf8mX1deBI
Aku merasa cukup aneh dengan semua permintaan itu karena aku bukan bintang porno yang bisa berakting di atas tempat tidur. Tubuhku yang tinggi dan lekukan yang menonjol seolah menjadi beban karena dia selalu menginginkan lebih banyak variasi yang menurutku terlalu vulgar.
Meski aku melakukannya dengan terpaksa, aku tetap berusaha memberikan yang terbaik agar dia merasa puas. Di dalam benakku, ada rasa risih yang terus tumbuh, namun aku tekan jauh-jauh demi menjaga keutuhan rumah tangga. Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti, dia akan melihatku sebagai manusia yang butuh kasih sayang, bukan sekadar pemuas hasrat.
57Please respect copyright.PENANAZDJLqV7EYB
57Please respect copyright.PENANAlnTl0rSM3w
Satu-satunya momen yang paling aku syukuri adalah saat Mas Bram berangkat kerja dan rumah menjadi sunyi. Rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari pundakku begitu suara motor matic-nya menghilang di tikungan jalan. Aku bisa bernapas lega tanpa perlu merasa was-was apakah ada letak piring yang salah atau debu yang terlewat kusapu.
Di saat itulah aku bisa bersiap-siap dengan tenang untuk pergi ke masjid dekat rumah. Kegiatan kajian rutin di sana menjadi pelarian sekaligus ruang napas bagiku agar tidak gila menghadapi tekanan di rumah. Aku merasa hidupku kembali memiliki ritme yang normal meski hanya untuk beberapa jam saja.
57Please respect copyright.PENANAK62yDtdZgY
Biasanya ada tiga kali kajian dalam seminggu yang diadakan pada siang hari. Jam-jam itu adalah waktu paling tepat karena jamaahnya didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga yang sudah selesai dengan urusan domestik mereka. Aku sangat menyukai suasana di sana, terutama saat mendengarkan nasihat Kyai yang terdengar begitu menyejukkan hati. Kata-kata beliau seolah menjadi obat penenang bagi jiwaku yang sering terombang-ambing oleh amarah Mas Bram. Di sana, aku tidak perlu menjadi pelayan yang ketakutan, melainkan hanya menjadi seorang murid yang ingin belajar tentang agama. Aku merasa menemukan kedamaian yang tidak pernah kudapatkan di dalam kamar tidurku sendiri.
57Please respect copyright.PENANAaL8NM5V4Tx
Di masjid inilah aku mulai mengenal ibu-ibu tetangga yang tinggalnya sebenarnya tidak jauh dari rumahku. Ironis memang, karena selama tiga tahun menikah, aku jarang sekali bertegur sapa dengan mereka karena Mas Bram sangat membatasi pergaulanku.
Kami sering berbincang ringan setelah kajian selesai, berbagi cerita tentang resep masakan atau sekadar mengobrolkan soal anak-anak mereka. Aku merasa sedikit canggung karena baru sekarang aku benar-benar berbaur dengan lingkungan sekitar. Namun, keramahan mereka membuatku merasa tidak lagi sendirian di dunia yang selama ini terasa begitu sempit. Perlahan, aku mulai menikmati percakapan sederhana yang membuatku merasa menjadi manusia normal kembali.
57Please respect copyright.PENANA7NAUQyI1xe
Hal yang paling mengejutkan adalah reaksi mereka setiap kali melihatku. Sering kali ibu-ibu itu memuji kecantikanku yang menurut mereka alami dan tidak berlebihan. Mereka tidak segan-segan berkomentar bahwa tubuhku sangat ideal, tinggi, dan terlihat seksi meski tertutup gamis longgar. Aku hanya bisa tersipu malu sambil menundukkan kepala, karena selama ini Mas Bram justru membuatku merasa tubuhku adalah beban atau sekadar alat pemuas. Mendengar pujian tulus dari mereka membuat ada sesuatu yang hangat berdesir di dadaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa dihargai bukan karena ketaatanku, melainkan karena eksistensiku sebagai seorang wanita.
57Please respect copyright.PENANAoDklaRbAcm
Namun, di tengah rasa senang itu, aku menyadari satu hal yang mengganjal. Pujian tentang bentuk tubuhku sering kali mengingatkanku pada permintaan-permintaan aneh Mas Bram di tempat tidur yang terasa sangat melelahkan. Ada kontradiksi yang nyata antara bagaimana orang luar memandang kecantikanku sebagai anugerah dan bagaimana suamiku menggunakannya sebagai objek eksperimen nafsu. Aku mulai bertanya-tanya, apakah benar kecantikan fisik ini seharusnya membawa kebahagiaan atau justru menjadi kutukan yang membuatku terperangkap.
57Please respect copyright.PENANATvkBprirTl
Nah setelah kali ikut kajian, aku selalu ingin curhat ke Kyai soal rumah tanggaku. Aku selalu takut selama ini, takut tidak didengarkan, takut dihina atau justru dianggap sebagai istri yang tidak taat suami jika menceritakan soal Mas Bram ke Kyai.
57Please respect copyright.PENANAavDHUPt5oL
Tapi tidak hari ini, karena aku berpikir kalau aku takut terus, maka aku akan seperti ini terus.
57Please respect copyright.PENANAvCnXIFBtgu
"Pak Kyai, bolehkah aku meminta waktunya sebentar?" Suaraku nyaris hilang, tertelan oleh riuh rendah obrolan ibu-ibu yang mulai bubar meninggalkan teras masjid.
57Please respect copyright.PENANA6nNynMSfIS
Aku sudah berdiri di sana selama lima menit, meremas ujung gamis sutra berwarna pastel yang sengaja kupilih karena paling cantik di lemari pakaianku. Selama ini aku hanya diam mendengarkan, terlalu takut dan malu untuk membuka luka yang kupendam sendiri di balik senyum palsu. Namun, rasa sesak di dadaku sudah mencapai ubun-ubun dan aku merasa jika tidak bicara sekarang, aku bisa gila. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum melangkah mendekat. Aku ingin terlihat pantas di hadapannya, bukan sekadar istri malang yang tampak berantakan.
57Please respect copyright.PENANATqxKvlaXMs
Kyai Huda menoleh ke arahku dengan gerakan lambat, memberikan senyuman tipis yang terasa sangat menenangkan. Beliau sudah memasuki usia enam puluhan tahun, dengan janggut putih yang mulai memanjang dan sorot mata yang teduh. Meskipun sudah memiliki istri dan beberapa cucu yang sering mengelilinginya, aura kepemimpinannya tetap terasa sangat kuat dan berwibawa. Beliau adalah sosok yang sangat dihormati, bukan hanya karena ilmunya, tapi karena kemampuannya membuat siapa pun merasa diterima. Aku merasa ada sebuah perlindungan yang ditawarkan oleh kehadirannya, sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari Mas Bram. Aku menatap ujung sepatuku, menunggu izin untuk mulai bercerita.
57Please respect copyright.PENANABMC9uulLAu
"Tentu, Farah. Ada apa? Wajahmu terlihat gelisah sekali," ucap beliau dengan suara berat yang lembut. Aku merasa jantungku berdegup kencang, hampir terasa sampai ke tenggorokan saat aku mulai terbata-bata menceritakan segalanya. Aku bercerita tentang tamparan yang mendarat di pipiku, makian kasar yang menghujam harga diriku, hingga rasa hampa yang menyelimuti hari-hariku. Aku tidak menceritakan semua detail konyol di tempat tidur, namun aku menekankan betapa aku merasa tidak berdaya. Aku terisak pelan, membiarkan air mata jatuh membasahi kain kerudungku yang tersampir rapi. Aku merasa seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya setelah melakukan kesalahan besar.
57Please respect copyright.PENANAhm18EMIMUC
Kyai Huda mendengarkan setiap kata-kataku tanpa memotong sedikit pun, tangannya bergerak pelan mengelus tasbih di jemarinya. Tatapannya tidak lepas dariku, seolah sedang membedah luka-luka yang kusembunyikan dengan rapi di balik pakaian tertutupku. Aku merasa sangat kecil di hadapannya, namun anehnya, aku merasa lebih dihargai daripada saat berada di rumah sendiri. Beliau tidak langsung menghakimi Mas Bram, namun beliau juga tidak menyuruhku untuk sekadar bersabar seperti yang biasa kudengar. Ada jeda hening yang cukup lama, membuatku bertanya-tanya apakah beliau akan menganggapku istri yang tidak tahu diri. Aku menahan napas, menunggu jawaban yang akan menentukan arah hidupku selanjutnya.
"Farah, kesabaran itu ada batasnya jika tujuannya hanya untuk menghancurkan jiwamu," bisik Kyai Huda sambil sedikit memajukan tubuhnya. Kata-kata itu terasa seperti sengatan listrik yang mengejutkan kesadaranku, karena selama ini aku diajarkan bahwa sabar adalah tanpa batas. Beliau menatapku dengan lebih dalam, seolah bisa melihat lekuk tubuhku yang tersembunyi di balik gamis longgar itu.
Ada kilatan aneh di matanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya, sesuatu yang terasa lebih dari sekadar rasa iba. Aku terpaku, merasakan getaran aneh yang menjalar di punggungku saat beliau mulai bicara tentang solusi yang tidak pernah terbayangkan olehku. Aku merasa ada sebuah pintu rahasia yang baru saja terbuka di hadapanku.
ns216.73.217.39da2


