Aku bernama Rafi. Dua puluh dua tahun. Masih tinggal di rumah ini bersama ibu kandungku, Lestari. Ayahku sudah dua tahun lebih bekerja di Timur Tengah, pulang hanya setahun sekali, dan bahkan saat pulang pun ia lebih banyak diam di kamar, lelah, jarang menyentuh ibu. Aku tahu. Aku mendengar. Aku melihat bagaimana ibu kadang berdiri di depan cermin kamar mandi setelah ayah tidur, tangannya menyentuh tubuh sendiri dengan pandangan kosong yang penuh rindu.
520Please respect copyright.PENANAaH2RU1GXLZ
Ibu Lestari. Empat puluh dua tahun. Tapi siapa yang percaya? Tubuhnya seperti wanita yang masih di puncak usia tiga puluhan. Payudaranya montok, berat, bentuknya bulat sempurna seperti dua buah semangka matang yang menggantung berat di dada. Saat ia berjalan tanpa bra di rumah—seperti biasa di pagi hari—payudaranya bergoyang pelan, mengikuti irama langkahnya, putingnya yang berwarna cokelat gelap kadang terlihat samar di balik kaos tipis yang ia kenakan. Pinggangnya masih ramping, melengkung indah ke bawah menuju bokong yang bulat, kencang, dan penuh. Setiap kali ia membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lantai, bokong itu mengencang, lekuknya yang dalam terlihat jelas, dan pahanya yang mulus serta berisi sedikit bergetar. Aku sering menahan napas melihatnya. Rasa bersalah selalu datang setelahnya, tapi hasrat itu… hasrat itu tidak pernah benar-benar pergi.
520Please respect copyright.PENANACVIw43X3uB
Kami memutuskan merenovasi rumah. Atap bocor di belakang, dinding kamar mandi retak, pagar depan perlu diganti. Ayah mengirim uang, tapi tidak ada tenaga. Jadi ibu meminta bantuanku mencari tukang bangunan. Setelah tiga hari bertanya ke tetangga, kami mendapatkan nama Bimo. Dua puluh lima tahun. Pekerja lepas yang direkomendasikan karena “rajin, jujur, dan hasilnya rapi”.
520Please respect copyright.PENANAPpwmdUTYIG
Pagi itu, pukul setengah delapan, bel rumah berbunyi.
520Please respect copyright.PENANAVRdwIdqU4H
Aku membuka pintu. Sosok di depan sana langsung membuatku sadar bahwa hari ini tidak akan biasa.
520Please respect copyright.PENANAFlrCroES6g
Bimo berdiri di ambang pintu dengan kaos oblong hitam ketat yang menempel di tubuh. Lengan bajunya digulung sampai atas, memperlihatkan otot lengan bawah yang tegang dan urat-urat yang menonjol. Bahunya lebar. Dada bidang. Perutnya rata, terlihat dari cara kaosnya menempel saat ia bernapas. Kulitnya kecokelatan legam karena terbakar matahari setiap hari. Rambut pendeknya agak acak-acakan, tapi wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan mata hitam yang tajam.
520Please respect copyright.PENANA5GYOKB1TmW
“Selamat pagi, Mas Rafi,” katanya dengan suara berat, dalam, dan sedikit serak. “Saya Bimo. Ibu Lestari hubungi kemarin sore.”
520Please respect copyright.PENANAzOZjl1pFIZ
“Saya Rafi. Masuklah, Bang. Ibu sedang siapkan kopi.”
520Please respect copyright.PENANAeUGsbmYffH
Saat ia melangkah masuk, aku mencium bau maskulinnya—keringat kering bercampur sabun mandi murah dan aroma tanah yang masih menempel di sepatu botnya. Bau itu anehnya… menggoda.
520Please respect copyright.PENANAEpborFFrQZ
Aku memanggil ibu dari dapur. “Bu, tukangnya sudah datang.”
520Please respect copyright.PENANAgeaP6jVGpV
Ibu keluar sambil mengusap tangan di celemek kecil yang ia pakai di atas kaos oblong putih longgar dan celana pendek kain katun abu-abu. Kaos itu tipis. Sangat tipis. Payudaranya yang besar tidak memakai bra, jadi bentuknya terlihat jelas—dua bukit montok yang berat, putingnya membuat dua tonjolan kecil di kain. Saat ia berjalan cepat, payudaranya bergoyang ke kiri dan kanan, beratnya membuat kain naik-turun mengikuti gerakan. Bokongnya yang montok mengisi celana pendek itu dengan sempurna, setiap langkah membuat dagingnya sedikit bergetar.
520Please respect copyright.PENANAAYkkVoG0dg
Bimo berdiri di ruang tamu. Matanya langsung tertuju ke ibu. Tidak ada yang bisa menyembunyikannya. Pandangannya turun ke payudara ibu, lalu naik lagi ke wajah, lalu turun lagi ke pinggang dan paha. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya. Dan aku yakin ibu juga merasakannya.
520Please respect copyright.PENANAmfWlvKU5kw
“Selamat pagi, Bu Lestari,” kata Bimo, suaranya sedikit lebih lembut sekarang. Ia menunduk sedikit hormat. “Saya Bimo. Siap membantu renovasi rumah Ibu.”
520Please respect copyright.PENANA4YSLHDdfYG
Ibu tersenyum. Senyum yang tulus, tapi ada sedikit rona merah di pipinya yang jarang kulihat akhir-akhir ini.
520Please respect copyright.PENANAgbNTDMbrMx
“Terima kasih sudah datang pagi-pagi, Mas Bimo. Mari duduk dulu. Kita bicara apa saja yang perlu diperbaiki.”
520Please respect copyright.PENANARZnsqc9EoA
Mereka duduk di sofa. Ibu di sebelah Bimo, aku di kursi tunggal di seberang. Ibu mulai menjelaskan kerusakan rumah dengan suara yang ramah dan mengalir. Tangan kanannya bergerak-gerak menggambarkan. Setiap gerakan membuat payudaranya bergoyang pelan di balik kaos tipis. Bimo mendengarkan dengan saksama, tapi matanya tidak hanya fokus pada wajah ibu. Beberapa kali ia melirik ke bawah, ke belahan payudara yang terlihat setiap kali ibu membungkuk sedikit ke depan.
520Please respect copyright.PENANAkfi1sSaUg9
Aku merasa sesuatu yang panas merayap di dada. Bukan cemburu murni. Bukan marah. Tapi campuran aneh antara rasa ingin melindungi ibu… dan rasa ingin melihat apa yang akan terjadi jika Bimo terus menatap seperti itu.
520Please respect copyright.PENANA5l9WgMcKMC
“Bagian atap belakang memang sudah lama bocor,” kata ibu, lalu ia berdiri untuk menunjuk arah. “Mari saya tunjukkan.”
520Please respect copyright.PENANA0yGU070B45
Kami bertiga berjalan ke belakang rumah. Ibu di depan. Aku di tengah. Bimo di belakang. Dan dari posisi Bimo, ia pasti bisa melihat bokong ibu dengan jelas. Celana pendek ibu agak naik saat ia melangkah naik tangga kecil menuju area belakang. Daging bokong yang kencang itu terlihat mengencang dan mengendur setiap langkah. Aku melihat Bimo menelan ludah. Matanya tidak berkedip.
520Please respect copyright.PENANAefmCLGzpCR
Di area belakang, ibu menunjuk ke atap. Ia mengangkat tangan kanan, kaosnya naik, memperlihatkan kulit perutnya yang halus dan pinggang yang indah. Bimo berdiri tepat di sampingnya. Jarak mereka sangat dekat. Aku bisa melihat keringat kecil mulai mengalir di pelipis Bimo.
520Please respect copyright.PENANAx8GZAw9CgH
“Bagian ini, Mas Bimo. Setiap hujan deras selalu bocor ke dalam.”
520Please respect copyright.PENANATGMNBmCTF1
Bimo mengangguk. Suaranya lebih serak sekarang. “Saya lihat, Bu. Kayu rangkanya sudah lapuk. Perlu diganti total. Dan gentengnya juga banyak yang retak.”
520Please respect copyright.PENANAi2gr9LdEyq
Ibu menoleh padanya. Wajah mereka berjarak kurang dari satu meter. “Berapa lama kira-kira, Mas?”
520Please respect copyright.PENANAP9z3B0gQzd
“Kalau cuaca bagus dan tidak ada kendala material… dua minggu sampai tiga minggu, Bu. Tapi saya kerjakan sendirian dulu, nanti kalau butuh bantuan saya panggil teman.”
520Please respect copyright.PENANASvuqBC5oBF
Ibu mengangguk. “Saya percaya sama Mas Bimo. Tetangga bilang hasil kerja Mas bagus.”
520Please respect copyright.PENANAqEjlh8otvW
Bimo tersenyum tipis. “Terima kasih, Bu. Saya usahakan tidak mengecewakan Ibu… dan Mas Rafi.”
520Please respect copyright.PENANA6zgERhgA9y
Mata mereka bertemu lagi. Lebih lama kali ini. Ibu tersenyum kecil, lalu menunduk. Pipinya agak merona. Bimo tidak langsung mengalihkan pandangan. Ia menatap bibir ibu sebentar, lalu turun ke leher, lalu ke payudara yang naik-turun karena napas ibu yang agak cepat.
520Please respect copyright.PENANAHy9gnA3VZC
Aku berdiri di belakang, jantungku berdegup tidak normal. Ada rasa panas di selangkangan. Aku mencoba mengalihkan pikiran, tapi tidak bisa.
520Please respect copyright.PENANAYsrcRHELqM
Kami kembali ke ruang tamu. Ibu menawarkan minum.
520Please respect copyright.PENANAFgWkF1bji9
“Mas Bimo mau es teh atau kopi? Hari ini panas sekali.”
520Please respect copyright.PENANAK17Y3Gm8fX
“Es teh saja, Bu. Terima kasih.”
520Please respect copyright.PENANAuXF8iUfa4R
Ibu pergi ke dapur. Aku dan Bimo duduk. Bimo mengeluarkan buku catatan kecil dan pensil. Ia mulai menulis daftar material yang dibutuhkan. Tapi setiap kali ada suara dari dapur—suara gelas, suara kulkas dibuka, suara langkah ibu—matanya melirik ke arah sana.
520Please respect copyright.PENANAELwVYo98WC
Ibu kembali membawa nampan. Dua gelas es teh dan satu gelas untukku. Saat ia membungkuk untuk meletakkan nampan di meja, payudaranya yang berat menggantung ke bawah. Belahan dada yang dalam terlihat jelas. Putingnya yang gelap membuat dua bayangan kecil di balik kain putih tipis. Bimo menatap. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Matanya terpaku di sana selama hampir tiga detik penuh.
520Please respect copyright.PENANAgxa5AxC7kg
Ibu menyadarinya. Aku melihat pipinya memerah lebih dalam. Tapi ia tidak marah. Tidak menutup belahan dadanya. Malah, ia berdiri lebih lama dari yang seharusnya sebelum duduk kembali.
520Please respect copyright.PENANARgNf47sMK9
“Silakan diminum, Mas Bimo,” katanya dengan suara yang sedikit lebih lembut.
520Please respect copyright.PENANAUScrj41btn
Bimo mengambil gelas. Jari mereka hampir bersentuhan. “Terima kasih, Bu.”
520Please respect copyright.PENANAArZo8xZiz7
Mereka mulai bicara lebih dalam. Bimo bertanya tentang rumah ini—berapa lama kami tinggal di sini, siapa yang merancang taman depan, apakah ada foto lama. Ibu menjawab dengan antusias. Ia bercerita tentang ayahku yang dulu rajin merawat rumah, tapi sekarang jarang pulang. Suaranya sedikit berubah saat menyebut ayah. Ada kesedihan yang halus, tapi juga… kelegaan yang samar.
520Please respect copyright.PENANA1U1q5nVV4w
Bimo mendengarkan dengan seksama. “Ibu pasti sering merasa kesepian ya, Bu,” katanya pelan, tanpa nada menghakimi. “Suami jauh, anak sudah besar… rumah sebesar ini kadang terasa kosong.”
520Please respect copyright.PENANAH7Kv2dIrbQ
Ibu diam sebentar. Lalu mengangguk pelan. “Kadang. Tapi saya punya Rafi. Dia baik. Rajin membantu ibu.”
520Please respect copyright.PENANAZFT7UgE56s
Bimo menoleh padaku sebentar, lalu kembali ke ibu. “Tapi Ibu tetap butuh teman bicara yang seusia, Bu. Bukan hanya anak.”
520Please respect copyright.PENANA2fOCSlWSI5
Kata-kata itu menggantung di udara. Ibu tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum kecil dan meneguk es tehnya. Tapi matanya… matanya berkilat lembut saat menatap Bimo.
520Please respect copyright.PENANANdMNbymET1
Aku merasa seperti ada yang berubah di ruangan ini. Sesuatu yang tipis, tak terlihat, tapi nyata. Seperti benang halus yang mulai terjalin antara ibu dan Bimo.
520Please respect copyright.PENANAFmFdZTzNk4
Siang harinya, Bimo mulai bekerja. Ia melepas kaos oblongnya karena panas. Tubuhnya terlihat jelas sekarang—dada bidang berotot, perut yang rata dengan garis otot yang dalam, lengan yang tegang setiap kali ia mengangkat palu atau gergaji. Keringat mengalir di dadanya, turun ke perut, lalu hilang di pinggang celana jeansnya yang rendah.
520Please respect copyright.PENANA3z1cuW7r03
Ibu keluar beberapa kali membawakan air minum atau handuk kecil. Setiap kali, percakapan mereka semakin panjang. Bimo bercerita tentang ibunya yang meninggal dua tahun lalu, tentang adiknya yang masih kuliah, tentang impiannya membuka usaha sendiri suatu hari nanti. Ibu mendengarkan dengan mata berbinar. Ia jarang terlihat sebahagia itu saat bicara dengan orang lain.
520Please respect copyright.PENANAqAhQl4P0zo
Saat sore menjelang, Bimo selesai membersihkan puing-puing hari pertama. Ia berdiri di halaman depan, tubuhnya berkeringat, otot-ototnya berkilat karena keringat. Ibu keluar mengantarnya.
520Please respect copyright.PENANANnh4TKiPGm
“Terima kasih banyak hari ini, Mas Bimo,” kata ibu. Suaranya lembut, hampir berbisik. “Besok saya siapkan nasi goreng spesial untuk makan siang. Jangan lupa bawa selera.”
520Please respect copyright.PENANA6G0RC91N8W
Bimo tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit sedikit. “Saya tunggu, Bu. Dan… terima kasih sudah memperlakukan saya dengan baik. Tidak semua majikan se… ramah Ibu.”
520Please respect copyright.PENANAJU6eo3nunz
Ibu tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak memberi pujian, Mas.”
520Please respect copyright.PENANAh0VpivT02r
“Bukan pujian, Bu. Kenyataan.”
520Please respect copyright.PENANAOxTaH97CCX
Mereka berdiri dekat di depan pagar. Jarak tubuh mereka kurang dari setengah meter. Bimo menunduk. Matanya jatuh ke bibir ibu, lalu ke leher, lalu ke payudara yang masih naik-turun karena napas ibu yang agak cepat. Ibu tidak mundur. Ia hanya menatap balik, ada sesuatu yang berubah di matanya—sesuatu yang hangat, yang lapar, yang selama ini ia pendam.
520Please respect copyright.PENANAy2x0W8VbEB
Tangan Bimo bergerak pelan. Ia mengangkat tangan kanan, seolah ingin menyentuh lengan ibu. Tapi ia berhenti di tengah jalan. Jari-jarinya menggantung di udara, hanya beberapa senti dari kulit ibu yang halus.
520Please respect copyright.PENANARDjDXxdAGa
Ibu menatap tangan itu. Lalu menatap mata Bimo. Napasnya terdengar sedikit lebih berat.
520Please respect copyright.PENANAOyUVMyvaOY
“Besok… saya datang lebih pagi, Bu,” kata Bimo dengan suara serak.
520Please respect copyright.PENANAhWjFTH4zwV
“Iya, Mas,” jawab ibu pelan. “Saya… kami tunggu.”
520Please respect copyright.PENANASEWJ1iFKxo
Bimo menarik tangannya perlahan. Ia menunduk hormat sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi. Tapi sebelum benar-benar hilang di ujung jalan, ia menoleh sebentar. Matanya mencari ibu. Dan ibu masih berdiri di situ, menatap punggungnya yang lebar.
520Please respect copyright.PENANAsAlrRSChwm
Aku melihat semuanya dari jendela ruang tamu.
520Please respect copyright.PENANApXL5oR0ltY
Malam itu, setelah makan malam, ibu mandi lebih lama dari biasanya. Aku mendengar suara air shower yang deras. Bayangan tubuh ibu di balik kaca buram kamar mandi—payudaranya yang montok, bokongnya yang bulat, air yang mengalir di sepanjang lekuk pinggangnya—membuatku gelisah di kamar. Aku mencoba tidur, tapi tidak bisa.
520Please respect copyright.PENANAC5AGSKLzUX
Sekitar pukul sebelas malam, aku bangun untuk minum air. Saat melewati ruang tamu, aku melihat ibu berdiri di depan jendela, menatap ke luar. Ia hanya memakai daster tipis berwarna krem yang menempel di tubuh. Tanpa bra. Payudaranya yang berat membuat kain itu tegang di dada. Bokongnya terlihat jelas dari belakang.
520Please respect copyright.PENANARo3BtDrDrF
Ia berdiri diam. Tangan kanannya memegang lengan kirinya. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat… atau sesuatu yang membuatnya gelisah dan excited sekaligus.
520Please respect copyright.PENANATvsqGQFu8c
Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri di kegelapan lorong, menatap ibu dari jauh.
520Please respect copyright.PENANAEuZj7g1TAK
Tiba-tiba, ibu menghela napas panjang. Lalu tangan kirinya naik perlahan… dan menyentuh payudaranya sendiri dari luar daster. Jari-jarinya menekan pelan, seolah mengingat sesuatu. Atau… membayangkan sesuatu.
520Please respect copyright.PENANAFRBKlKYd0r
Aku mundur pelan ke kamar, dada berdegup kencang.
520Please respect copyright.PENANANE8AeoYE4m
Pagi berikutnya terasa berbeda sejak aku membuka mata.
520Please respect copyright.PENANAKip9zMcnXF
Aku bangun lebih awal dari biasanya, tapi ibu sudah lebih dulu di dapur. Bau kopi hitam yang kuat bercampur aroma bawang goreng dan rempah-rempah yang harum menyebar ke seluruh rumah. Aku berdiri di ambang pintu dapur, hanya memakai celana pendek dan kaos oblong tipis, dan aku melihatnya.
520Please respect copyright.PENANAVyIBzRSx2G
Ibu Lestari berdiri di depan kompor dengan punggung menghadap ke arahku. Daster tipis berwarna krem muda yang ia pakai semalam masih menempel di tubuhnya, tapi sekarang sudah agak basah karena keringat pagi yang lembab. Kain itu menempel erat di bokongnya yang montok dan bulat, memperlihatkan lekuk dalam di antara dua belahan pantat yang kencang. Setiap kali ibu mengaduk sesuatu di wajan, bokongnya bergoyang pelan ke kiri dan kanan, dagingnya yang berisi sedikit bergetar seperti jelly yang lembut tapi padat. Pinggangnya yang ramping terlihat jelas karena daster itu agak naik saat ia berdiri di ujung kaki untuk mengambil bumbu di rak atas.
520Please respect copyright.PENANAUQG1RkXpP3
Payudaranya… ya Tuhan.
Dua buah dada montok yang berat itu bergoyang berat setiap gerakan. Tanpa bra, putingnya yang berwarna cokelat gelap membuat dua tonjolan jelas di balik kain tipis yang sudah agak transparan karena uap panas dari kompor. Saat ibu menoleh sebentar ke samping untuk mengambil garam, payudaranya bergeser ke samping, bentuknya yang penuh dan berat terlihat sempurna—seperti dua bukit yang ingin disentuh, dipegang, dan dihisap. Aku merasa mulutku kering. Rasa bersalah datang seperti biasa, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih kuat: bayangan Bimo yang kemarin menatap dada itu dengan lapar yang tak disembunyikan.
520Please respect copyright.PENANARd1utkRZnA
Ibu menyadari kehadiranku. Ia menoleh dan tersenyum hangat, rambutnya yang agak acak-acakan jatuh di bahu. “Rafi, bangun sudah? Ibu buatkan nasi goreng spesial buat Mas Bimo nanti. Kamu juga mau?”
520Please respect copyright.PENANAP74gR4nLqZ
Suara ibu lembut, tapi ada nada yang berbeda—lebih hidup, lebih… excited. Aku mengangguk dan mendekat. Saat aku berdiri di sampingnya, aku bisa mencium aroma tubuh ibu yang masih hangat dari tidur: sabun mandi kemarin yang masih tertinggal, bercampur sedikit keringat manis khas ibu, dan sesuatu yang samar seperti parfum murah tapi menggoda.
520Please respect copyright.PENANAQ40En5GkAU
“Bu… kenapa pagi-pagi sudah repot gini?” tanyaku, mencoba terdengar biasa.
520Please respect copyright.PENANAG04R6mQd2Z
Ibu tertawa kecil sambil membalik nasi goreng. “Kan Mas Bimo bilang akan datang lebih pagi. Ibu mau kasih dia sarapan enak biar semangat kerja. Lagian… ibu juga senang ada orang lain di rumah selain kita berdua.”
520Please respect copyright.PENANANpGtCND9dX
Kata-kata itu menggantung. Aku melihat pipi ibu sedikit merona. Ia tidak menatapku saat mengatakannya. Matanya fokus pada wajan, tapi tangannya berhenti sebentar, seolah memikirkan sesuatu.
520Please respect copyright.PENANA5oaAoJCjNq
Aku membantu ibu menyiapkan meja. Setiap kali ibu bergerak melewatiku, payudaranya yang berat menyentuh lenganku sekilas—lembut, hangat, dan berat. Aku merasa darahku mengalir deras ke selangkangan. Celana pendekku mulai terasa sempit.
520Please respect copyright.PENANAgDfl3tymlw
Pukul setengah tujuh, bel rumah berbunyi.
520Please respect copyright.PENANARLDt2NvRFq
Bimo datang lebih pagi dari janjinya. Ia berdiri di depan pintu dengan kaos oblong abu-abu ketat dan celana jeans kerja yang sudah agak robek di lutut. Keringat sudah mulai mengalir di pelipisnya meski pagi masih dingin. Matanya langsung mencari ibu saat pintu terbuka.
520Please respect copyright.PENANAxHuA4piUlf
“Selamat pagi, Bu Lestari… Mas Rafi,” katanya dengan suara berat yang serak. Pandangannya turun sebentar ke dada ibu sebelum naik lagi ke wajah. “Maaf datang pagi sekali. Saya mau mulai kerja sebelum panas.”
520Please respect copyright.PENANAwHjYbauBFf
Ibu tersenyum lebar—senyum yang jarang kulihat saat ayah masih di rumah. “Masuklah, Mas Bimo. Ibu sudah siapkan sarapan. Nasi goreng spesial. Kamu harus makan dulu sebelum kerja keras.”
520Please respect copyright.PENANA6RGtI2rycn
Bimo masuk. Bau maskulinnya—keringat, tanah, dan sabun—langsung memenuhi ruangan. Ia melepas sepatu botnya di depan pintu, lalu mengikuti ibu ke meja makan. Aku mengikuti di belakang, memperhatikan bagaimana Bimo berjalan tepat di belakang ibu, matanya tidak bisa lepas dari bokong ibu yang bergoyang di balik daster tipis.
520Please respect copyright.PENANAXhLu2BXRXZ
Kami bertiga duduk. Ibu duduk di sebelah Bimo, aku di seberang. Ibu menyendok nasi goreng ke piring Bimo dengan porsi besar. Saat ia membungkuk untuk menuang air ke gelas Bimo, payudaranya yang montok menggantung berat ke depan. Dasternya agak terbuka di bagian dada, memperlihatkan belahan dalam yang lembab karena keringat. Putingnya yang gelap terlihat samar-samar. Bimo menatap. Kali ini lebih lama. Ia menelan ludah keras, tangannya yang memegang sendok berhenti di udara.
520Please respect copyright.PENANA3OHXdTOTbr
Ibu menyadarinya. Ia tidak buru-buru menegakkan tubuh. Malah, ia tinggal membungkuk sedikit lebih lama, seolah sengaja. Lalu ia menegakkan badan pelan, mata mereka bertemu. Ada senyum kecil di bibir ibu—senyum yang penuh kesadaran.
520Please respect copyright.PENANAmzvSTgQixa
“Makanlah, Mas Bimo,” kata ibu dengan suara lembut. “Jangan sampai lapar nanti kerja.”
520Please respect copyright.PENANANrnvkZ1Hj3
Bimo mengangguk. Suaranya serak saat menjawab. “Terima kasih, Bu. Bau masakannya… bikin saya lapar sekali.”
520Please respect copyright.PENANA5qt4dyhKvc
Percakapan mengalir natural tapi penuh ketegangan tersembunyi. Bimo bercerita tentang pekerjaan kemarin, bagaimana ia harus mengganti beberapa balok kayu yang lapuk. Ibu mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk dan bertanya detail. Setiap kali ibu tertawa kecil karena Bimo bercerita lucu tentang rekan kerjanya, payudaranya bergoyang pelan. Bimo tidak bisa menyembunyikan pandangannya lagi. Matanya terus kembali ke sana—ke dua bukit montok yang naik-turun mengikuti tawa ibu.
520Please respect copyright.PENANA4eYZmqvRZY
Aku diam. Tapi di dalam hati, ada badai. Aku melihat bagaimana ibu mulai bersikap berbeda. Ia lebih banyak tersenyum. Ia lebih sering menyentuh lengannya sendiri saat bicara. Dan Bimo… Bimo mulai membalas dengan cara yang lebih berani.
520Please respect copyright.PENANA69AGS0qf8H
“Bu Lestari pasti dulu cantik sekali ya,” kata Bimo tiba-tiba, sambil meneguk air. “Sekarang pun masih… sangat menarik. Suami Ibu beruntung sekali.”
520Please respect copyright.PENANA0eoKA3oDH8
Ibu diam sebentar. Pipinya memerah dalam. Ia menunduk, lalu menatap Bimo dari balik bulu mata. “Suami saya jarang di rumah, Mas. Kerja di luar negeri… kadang saya lupa bagaimana rasanya dipuji seperti itu.”
520Please respect copyright.PENANAYTCmogbbpe
Kata-kata itu keluar pelan, jujur, dan penuh kerinduan yang tak disembunyikan. Aku merasa dada saya sesak. Tapi di saat yang sama, aku merasa darahku mengalir lebih panas ke selangkangan. Aku membayangkan Bimo memuji ibu lebih jauh. Membayangkan ibu mendengar pujian itu sambil tubuhnya disentuh.
520Please respect copyright.PENANAEl672qlFN5
Setelah sarapan, Bimo langsung bekerja. Hari ini ia fokus di bagian dalam rumah—memperbaiki dinding kamar mandi yang retak dan memasang keramik baru di lantai. Karena panas, ia melepas kaos oblongnya lagi. Tubuhnya yang kekar terlihat jelas: dada bidang berotot, perut rata dengan garis otot yang dalam, punggung lebar yang berkeringat deras. Keringat mengalir dari lehernya, turun melewati dada, lalu hilang di pinggang celana jeans yang rendah, memperlihatkan garis V yang tajam ke bawah.
520Please respect copyright.PENANAcKwpchJG9E
Ibu keluar dari kamar mandi setelah mandi cepat. Ia mengganti daster tipisnya dengan kaos oblong putih yang lebih longgar dan celana pendek jeans pendek yang ketat. Kaosnya masih tipis. Payudaranya yang besar membuat kain itu tegang di dada. Saat ia berjalan melewati Bimo yang sedang bekerja di kamar mandi, ia membawa seember air bersih dan handuk.
520Please respect copyright.PENANAeCADZogFkc
“Mas Bimo, istirahat sebentar. Minum dulu. Badanmu sudah basah keringat.”
520Please respect copyright.PENANARm9SdUZNlx
Bimo berhenti bekerja. Ia berdiri, tubuhnya yang tinggi menjulang di depan ibu yang lebih pendek. Jarak mereka sangat dekat di kamar mandi yang sempit itu. Ibu mengulurkan gelas air. Bimo mengambilnya, jari mereka bersentuhan lebih lama dari yang seharusnya. Kulit Bimo panas. Ibu tidak menarik tangan langsung.
520Please respect copyright.PENANAAF96etRLUr
“Terima kasih, Bu,” kata Bimo pelan. Matanya turun ke payudara ibu yang naik-turun karena napas. “Ibu baik sekali… memperhatikan saya seperti ini.”
520Please respect copyright.PENANAqP5oq6aeyR
Ibu tersenyum. “Kamu kerja keras. Sudah sepantasnya.”
520Please respect copyright.PENANAngnnaGH1F8
Bimo meneguk air, tapi matanya tidak lepas dari ibu. Saat ia menurunkan gelas, setetes air jatuh dari bibirnya dan mendarat di dada ibu—tepat di atas belahan payudara yang dalam. Air itu mengalir pelan di kulit ibu yang halus, meninggalkan jejak basah yang mengkilap.
520Please respect copyright.PENANASwEe1tb2Hr
Ibu tidak langsung mengusapnya. Ia hanya menatap Bimo. Ada napas yang lebih berat. Bimo mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya yang kasar dan berotot dari kerja kasar itu menggantung di udara, hanya beberapa senti dari kulit dada ibu yang lembab.
520Please respect copyright.PENANASj7NqolTkA
“Bu… ada airnya,” katanya dengan suara serak yang dalam.
520Please respect copyright.PENANAFUVEmNUWFy
Ibu tidak mundur. “Bersihkan… kalau mau.”
520Please respect copyright.PENANAosVeXbV8UO
Bimo menelan ludah. Tangan kanannya bergerak pelan. Jari telunjuknya menyentuh kulit ibu tepat di atas belahan dada—hangat, lembab, dan halus. Ia mengusap setetes air itu dengan gerakan yang sangat pelan, hampir seperti membelai. Jari-jarinya menyentuh pinggir payudara ibu yang montok. Dagingnya yang lembut sedikit tertekan oleh sentuhan kasar Bimo.
520Please respect copyright.PENANAxtViTYZ7Qj
Ibu menggigit bibir bawahnya. Matanya setengah tertutup. Napasnya keluar lebih berat. Aku berdiri di lorong, hanya beberapa meter dari pintu kamar mandi yang terbuka. Aku melihat semuanya. Jantungku berdegup seperti mau copot. Celana pendekku sudah sangat tegang. Aku merasa malu, tapi tidak bisa mengalihkan pandangan.
520Please respect copyright.PENANACZopx1qPi3
Bimo tidak berhenti di situ. Jarinya yang lain ikut menyentuh, seolah tak sengaja, sisi payudara ibu yang lain. Ia membelai pelan, seolah menguji seberapa jauh ibu membiarkannya. Ibu tidak menarik diri. Malah, ia sedikit melengkungkan punggung, seolah mendorong dadanya lebih dekat ke tangan Bimo.
520Please respect copyright.PENANAq35wsiJ8iM
“Mas Bimo…” bisik ibu, suaranya gemetar pelan.
520Please respect copyright.PENANAVkoiZzF6r8
Bimo menarik tangannya perlahan, tapi matanya tetap membakar. “Maaf, Bu… tidak sengaja.”
520Please respect copyright.PENANAhpXVGyeM7c
Ibu tersenyum tipis, bibirnya basah. “Tidak apa-apa… asal tidak diulangi… terlalu lama.”
520Please respect copyright.PENANAe54l5dU3Bd
Mereka saling menatap beberapa detik yang terasa seperti jam. Lalu ibu berbalik dan keluar dari kamar mandi, pipinya merah padam. Bokongnya yang montok bergoyang lebih berat saat ia berjalan pergi, seolah ia sengaja.
520Please respect copyright.PENANAgKIw7Jih0K
Bimo berdiri diam di kamar mandi, dadanya naik-turun cepat. Aku melihat tangannya yang tadi menyentuh ibu sekarang menggenggam palu dengan erat, seolah menahan sesuatu yang besar.
520Please respect copyright.PENANAQcqhaxjpdZ
Sepanjang siang, ketegangan itu semakin tebal.
520Please respect copyright.PENANAMCLm2M35aG
Bimo bekerja di dalam rumah. Ibu sesekali datang membawakan air atau handuk, dan setiap kali mereka bertemu, percakapan menjadi lebih personal, lebih berani. Bimo bertanya tentang masa muda ibu, tentang bagaimana rasanya ditinggal suami begitu lama. Ibu menjawab jujur—ia kesepian, ia rindu disentuh, ia rindu merasa diinginkan sebagai wanita, bukan hanya sebagai ibu.
520Please respect copyright.PENANAPgXMTFVYS9
“Kamu masih muda, Mas Bimo,” kata ibu suatu saat saat mereka duduk sebentar di teras belakang untuk istirahat. “Pasti banyak wanita yang suka sama kamu.”
520Please respect copyright.PENANABbp2X8Hcqf
Bimo menatap ibu dalam-dalam. “Saya lebih suka wanita yang sudah matang, Bu. Wanita yang tahu apa yang dia inginkan… dan punya tubuh yang… sempurna seperti Ibu.”
520Please respect copyright.PENANAnVXbAGKWK7
Ibu diam. Tapi ia tidak marah. Ia hanya menatap Bimo dengan mata yang berkilat. Tangan kirinya naik perlahan dan menyentuh lehernya sendiri, seolah merasa panas.
520Please respect copyright.PENANATJcq7VcT2S
Aku yang duduk di dalam rumah, pura-pura membaca di laptop, tapi sebenarnya mengamati dari jendela. Aku melihat bagaimana Bimo mulai menyentuh ibu lebih sering—bukan sengaja, tapi “kebetulan”. Saat ibu membungkuk untuk mengambil alat yang jatuh, Bimo berdiri di belakangnya dan tangannya “menopang” pinggang ibu agar tidak jatuh. Jari-jarinya menempel di kulit ibu yang terbuka di atas celana pendek. Ia tidak langsung melepaskan. Ia membelai pelan dengan ibu jarinya di lekuk pinggang ibu yang halus.
520Please respect copyright.PENANAmjoZOjBd8v
Ibu gemetar pelan. Tapi ia tidak menjauh.
520Please respect copyright.PENANAjdmH92NqVL
Sore harinya, Bimo selesai memasang sebagian keramik baru di kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin, tubuhnya penuh keringat, otot-ototnya berkilat. Ibu masuk membawa handuk bersih.
520Please respect copyright.PENANAV24g0YdtH2
“Mandilah dulu di sini, Mas Bimo. Airnya sudah saya panaskan. Kamu kotor sekali.”
520Please respect copyright.PENANAuFvL9gTr9S
Bimo menoleh. “Terima kasih, Bu. Tapi… saya tidak bawa pakaian ganti.”
520Please respect copyright.PENANASzvsjhEZti
Ibu tersenyum. “Pakai saja handuk dulu. Nanti saya cuci kaosmu.”
520Please respect copyright.PENANAudX0QtaKeC
Mereka berdiri dekat lagi. Ibu mengulurkan handuk. Bimo mengambilnya, tapi kali ini ia tidak langsung mundur. Ia berdiri sangat dekat, dada bidangnya yang berkeringat hanya beberapa senti dari payudara ibu yang montok.
520Please respect copyright.PENANA4AIrK651t5
“Bu Lestari…” bisiknya. “Saya… tidak bisa berhenti memikirkan Ibu sejak kemarin.”
520Please respect copyright.PENANA1afy1vZYfS
Ibu menatapnya. Napas ibu terdengar jelas sekarang—pendek, cepat. “Mas Bimo… kita tidak boleh…”
520Please respect copyright.PENANAtvFeYckGoC
Tapi ia tidak mundur. Bimo mengangkat tangan kirinya dan menyentuh pipi ibu dengan punggung jarinya yang kasar. Ibu menutup mata sebentar, menikmati sentuhan itu. Lalu Bimo menurunkan tangannya perlahan… melewati leher ibu… dan berhenti tepat di atas belahan payudara yang dalam dan lembab.
520Please respect copyright.PENANAXyEBaYPKLc
Jari-jarinya menyentuh kulit payudara ibu. Kali ini tidak “kebetulan”. Ia sengaja. Ia menekan pelan, merasakan kelembutan dan beratnya. Ibu menggigit bibirnya kuat-kuat, tapi tidak menolak. Malah, ia sedikit mendorong dadanya ke depan, membiarkan tangan Bimo menekan lebih dalam ke daging montoknya.
520Please respect copyright.PENANAhQj7ZrP7ke
Aku melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Jantungku berdegup gila. Tangan kananku tanpa sadar masuk ke dalam celana pendek, menggenggam kontolku yang sudah sangat keras dan basah di ujung. Aku mengusap pelan, menahan desahan.
520Please respect copyright.PENANAFq9ee78XL5
Bimo membelai payudara ibu dengan ibu jarinya, mengelilingi puting yang sudah mengeras di balik kaos. Ia bisa merasakannya. Ibu menggigil. Suara kecil keluar dari tenggorokannya—bukan desahan penuh, tapi suara yang menahan.
520Please respect copyright.PENANA7VbbSRvRg1
“Mas Bimo… Rafi di rumah…” bisik ibu, tapi suaranya tidak meyakinkan.
520Please respect copyright.PENANAPGAzK2VmIS
Bimo menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga ibu. “Saya tahu… tapi saya tidak bisa menahan lagi, Bu. Ibu terlalu… cantik. Terlalu montok. Terlalu menggoda.”
520Please respect copyright.PENANAmfWU6RYo9f
Tangan Bimo yang lain turun ke pinggang ibu, lalu ke bokong. Ia meremas pelan satu sisi bokong ibu yang kencang dan berisi. Dagingnya terasa di telapak tangannya yang kasar. Ibu menggigit bibir lebih kuat, tapi ia tidak menjauh. Malah, ia sedikit melengkungkan bokongnya ke belakang, mendorongnya ke tangan Bimo.
520Please respect copyright.PENANAmPugbvo6Sn
Mereka berdiri di situ selama hampir satu menit penuh—tangan Bimo di dada dan bokong ibu, ibu membiarkannya, napas mereka saling bertemu, mata saling menatap dengan lapar yang tak lagi bisa disembunyikan.
520Please respect copyright.PENANA1M9EDbcJG3
Lalu… ada suara langkah di luar. Aku buru-buru mundur ke kamar, tanganku masih di dalam celana, kontolku berdenyut keras.
520Please respect copyright.PENANAdAqS5fasyH
Bimo menarik tangannya perlahan. Ibu membuka mata, wajahnya merah padam, napasnya kacau. Mereka saling menatap, seolah ada janji tak terucap di antara mereka.
520Please respect copyright.PENANA7FpwjAg86q
“Besok… saya datang lebih pagi lagi, Bu,” kata Bimo dengan suara serak yang berat.
520Please respect copyright.PENANAjCuzcbsazS
Ibu mengangguk pelan. “Ya… saya tunggu.”
520Please respect copyright.PENANAYxbVQfJYue
Malam itu, setelah Bimo pulang, ibu mandi sangat lama. Aku mendengar suara shower yang deras, tapi di tengah-tengahnya ada suara lain—suara desahan pelan yang ditahan, suara tangan yang bergerak di kulit basah, suara napas yang pendek dan cepat.
520Please respect copyright.PENANAXaxI3tssXP
Aku berdiri di depan pintu kamar mandi, jantung berdegup. Aku membayangkan ibu di dalam sana—tubuh telanjang, payudara montok yang tadi disentuh Bimo sekarang sedang dipegang oleh tangan ibu sendiri, putingnya yang keras sedang diputar, bokongnya yang tadi diremas Bimo sekarang sedang didorong ke belakang seolah ada tubuh Bimo di belakangnya.
520Please respect copyright.PENANAFLXsKo6LYr
Aku tidak tahan. Aku kembali ke kamar, menutup pintu, dan onani dengan keras sambil membayangkan ibu dan Bimo. Aku membayangkan Bimo menekan ibu ke dinding kamar mandi, tangannya meremas payudara montok ibu, mulutnya menghisap puting, dan ibu mendesah nama Bimo sambil bokongnya didorong ke belakang.
520Please respect copyright.PENANABTuVve6qXs
Aku datang dengan hebat, tapi rasa bersalah yang datang setelahnya lebih besar dari sebelumnya.
520Please respect copyright.PENANA2iRImQda0T
Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.
520Please respect copyright.PENANACr3RaK9acN
Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan tangan Bimo yang kasar menyentuh payudara montok ibu dan meremas bokongnya yang kencang terus muncul. Aku mendengar lagi desahan pelan ibu di kamar mandi, tangannya yang bergerak di antara pahanya yang mulus, membayangkan Bimo di belakangnya. Kontolku kembali tegang meski baru saja aku onani dengan hebat. Aku merasa seperti orang gila—cemburu, marah pada diriku sendiri, tapi juga sangat terangsang. Aku ingin melihat lebih jauh. Aku ingin tahu seberapa jauh ibu akan membiarkan Bimo menyentuh tubuhnya yang indah itu.
520Please respect copyright.PENANAoOlTJSEedd
Pagi harinya, ibu bangun lebih awal lagi. Aku mendengar langkahnya di dapur, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam caranya bergerak. Ia berjalan lebih lambat, seolah masih merasakan bayangan tangan Bimo di dadanya. Saat ia keluar dari kamar mandi, daster tipis yang ia pakai agak basah di bagian dada. Payudaranya yang berat bergoyang berat setiap langkah, putingnya yang sudah sensitif membuat dua tonjolan jelas di kain yang menempel karena uap mandi. Ia tidak memakai bra lagi. Seolah ia sengaja membiarkan tubuhnya lebih mudah dijangkau.
520Please respect copyright.PENANATFjjX687iY
Aku pura-pura masih tidur saat ibu melongok ke kamarku. “Rafi, kamu bangun belum? Mas Bimo katanya akan datang jam setengah tujuh. Ibu sudah siapkan sarapan lagi.”
520Please respect copyright.PENANA1GJhm3KuXp
Suara ibu lembut, tapi ada getaran kecil di dalamnya. Aku mengangguk dari balik selimut, berusaha menyembunyikan kontolku yang sudah setengah tegang hanya karena mendengar namanya.
520Please respect copyright.PENANA8uMb7ukMNN
Pukul setengah tujuh tepat, bel rumah berbunyi.
520Please respect copyright.PENANAzD7QOEqNJs
Bimo berdiri di depan pintu dengan kaos oblong hitam yang lebih ketat dari kemarin dan celana jeans yang sudah agak kotor bekas kerja. Matanya langsung mencari ibu. Saat ibu membuka pintu dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya, Bimo menatapnya dari atas ke bawah tanpa malu lagi. Pandangannya berhenti lama di payudara ibu yang montok dan berat di balik daster tipis, lalu turun ke pinggang ramping, lalu ke bokong yang mengisi kain dengan sempurna.
520Please respect copyright.PENANAu3csIqvaHa
“Selamat pagi, Bu Lestari,” katanya dengan suara lebih dalam dari biasanya. “Saya datang lebih pagi seperti janji.”
520Please respect copyright.PENANALMt7X5aXfY
Ibu mengangguk, pipinya sudah agak merona. “Masuklah, Mas Bimo. Sarapan sudah siap. Kamu harus makan banyak hari ini… kerjaannya berat.”
520Please respect copyright.PENANAR3fAirGMXl
Kami bertiga duduk di meja makan lagi. Tapi suasananya sudah tidak sama seperti kemarin. Ada listrik di udara. Ibu duduk lebih dekat ke Bimo. Setiap kali ia mengulurkan tangan untuk mengambil sendok atau menuang air, payudaranya yang berat bergeser dan menyentuh lengan Bimo. Bimo tidak mundur. Malah, ia sengaja mendekatkan tubuhnya sehingga siku mereka saling bersentuhan lebih lama.
520Please respect copyright.PENANAZ1dYhdCLQW
Percakapan pagi itu penuh dengan kata-kata yang bermakna ganda.
520Please respect copyright.PENANASIBtm6Zpno
“Badan Ibu kelihatan segar sekali pagi ini, Bu,” kata Bimo sambil menatap langsung ke dada ibu. “Seperti ada yang membuat Ibu… bersemangat.”
520Please respect copyright.PENANACqmNqD0MBb
Ibu tertawa kecil, tapi suaranya agak serak. “Mungkin karena cuaca bagus. Atau… karena ada orang yang membuat saya merasa diperhatikan lagi setelah lama.”
520Please respect copyright.PENANABSdqIdYCZK
Bimo menelan ludah. Matanya gelap. “Kalau begitu, saya senang bisa membuat Ibu merasa seperti itu. Saya… tidak bisa berhenti memikirkan kemarin, Bu. Saat saya menyentuh… Ibu tidak marah.”
520Please respect copyright.PENANAihih79X1to
Ibu diam sebentar. Ia menatap piringnya, lalu mengangkat wajah dan menatap Bimo lurus. Suaranya pelan tapi jelas. “Saya tidak marah, Mas Bimo. Justru… saya merasa hidup lagi. Sudah lama tidak ada yang menyentuh saya seperti itu. Suami saya… jarang pulang. Dan saat pulang pun, dia sudah lelah. Saya… rindu merasa diinginkan sebagai wanita.”
520Please respect copyright.PENANAnDfL5xsFRw
Kata-kata itu keluar jujur, penuh kerinduan yang selama ini ia pendam. Aku yang duduk di seberang merasa dada saya sesak dan kontolku semakin tegang di balik meja. Ibu baru saja mengakui kerinduannya di depan kami bertiga.
520Please respect copyright.PENANAq4jCEEr1ly
Bimo mengulurkan tangan di bawah meja. Aku tidak bisa melihat, tapi dari perubahan ekspresi ibu—matanya sedikit melebar, bibirnya sedikit terbuka—aku tahu Bimo sedang menyentuh pahanya. Tangan kasar itu naik perlahan di paha ibu yang mulus, mendorong daster tipis ke atas sedikit demi sedikit.
520Please respect copyright.PENANA3sIUKhPcK5
Ibu tidak menjauh. Ia hanya meneguk air dengan agak tergesa, napasnya sedikit lebih cepat.
520Please respect copyright.PENANAGjSaV3YkP2
Setelah sarapan, Bimo langsung bekerja di bagian belakang rumah yang masih perlu finishing. Hari ini panas sekali. Ia melepas kaosnya lebih cepat. Tubuhnya yang kekar berkeringat deras di bawah terik matahari. Otot dadanya mengencang setiap kali ia mengangkat palu atau memindahkan kayu. Keringat mengalir deras dari lehernya, melewati dada bidang, perut rata, lalu hilang di pinggang celana yang rendah.
520Please respect copyright.PENANAUCL6ZPz756
Ibu keluar berkali-kali membawakan air dingin dan handuk. Setiap kali ia mendekat, Bimo berhenti bekerja dan menatapnya dengan lapar yang semakin terang-terangan. Pada salah satu kesempatan, saat ibu membungkuk untuk meletakkan gelas di tanah, bokongnya yang montok dan kencang terangkat tinggi ke belakang. Dasternya naik, memperlihatkan paha bagian dalam yang mulus dan sedikit lembab karena keringat. Bimo berdiri di belakangnya. Ia tidak tahan lagi.
520Please respect copyright.PENANAI66mP20jOA
Tangan kirinya naik dan menyentuh bokong ibu dari belakang—bukan pelan seperti kemarin, tapi dengan tekanan yang jelas. Ia meremas satu sisi bokong montok itu, jari-jarinya masuk ke dalam lekuk dalam di antara dua belahan pantat. Ibu menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak bersuara. Tubuhnya gemetar, tapi ia tidak menjauh. Malah, ia sedikit mendorong bokongnya ke belakang, membiarkan tangan Bimo meremas lebih dalam.
520Please respect copyright.PENANA2g3usuZiNY
“Bu…” bisik Bimo serak. “Bokong Ibu… sangat montok. Sangat kencang. Saya ingin merasakannya lebih lama.”
520Please respect copyright.PENANA4vfAdlcvsF
Ibu menoleh sebentar, wajahnya merah padam, napasnya pendek. “Nanti… malam nanti. Rafi masih di rumah.”
520Please respect copyright.PENANALgRGHHH3Lr
Bimo mengangguk pelan, tapi tangannya tidak langsung dilepas. Ia membelai bokong ibu beberapa kali lagi sebelum akhirnya menarik tangan saat aku mendekat membawa alat tambahan.
520Please respect copyright.PENANAbKDm0qqqEH
Sepanjang siang, ketegangan itu seperti api yang semakin membesar. Mereka saling mencuri sentuhan setiap kali aku tidak melihat langsung—tangan Bimo menyentuh pinggang ibu saat melewati, jari ibu menyentuh dada Bimo yang berkeringat saat memberikan handuk, mata mereka saling bertemu dengan janji yang tak terucap.
520Please respect copyright.PENANAfst4GYeUeJ
Menjelang sore, aku pura-pura mengantuk berat. Aku bilang kepada ibu bahwa aku mau tidur siang karena semalam kurang tidur. Ibu mengangguk, tapi matanya berkilat—seolah ia tahu aku memberi ruang. Aku masuk ke kamarku, menutup pintu, tapi tidak menguncinya. Aku membiarkan celah kecil di pintu dan jendela kamar yang menghadap ke belakang rumah.
520Please respect copyright.PENANA8wg05d10yI
Aku berbaring di tempat tidur, pura-pura tidur, tapi telingaku dan mataku tajam.
520Please respect copyright.PENANAP51036vP0M
Sekitar pukul lima sore, Bimo selesai bekerja untuk hari itu. Ia mandi di kamar mandi belakang yang baru diperbaiki. Aku mendengar suara air shower. Tidak lama kemudian, ibu masuk ke kamar mandi itu juga—membawa handuk bersih atau mungkin… sengaja.
520Please respect copyright.PENANAwaRHfyHEGD
Aku bangun pelan dari tempat tidur dan mengintip dari celah jendela yang menghadap ke belakang.
520Please respect copyright.PENANAnlnKxOKQac
Di dalam kamar mandi yang masih setengah selesai, Bimo berdiri di bawah shower dengan hanya memakai handuk di pinggang. Tubuhnya basah, otot-ototnya berkilat karena air. Ibu berdiri di depannya, masih memakai daster tipis yang sekarang sudah basah di beberapa bagian karena percikan air.
520Please respect copyright.PENANAcjsIYU4rsr
Mereka tidak bicara banyak. Hanya saling menatap.
520Please respect copyright.PENANAj3p5m23ns2
Lalu Bimo mengangkat tangan dan menarik ibu ke dalam pelukannya.
520Please respect copyright.PENANAYMDhyqQmY4
Bibirs mereka bertemu untuk pertama kalinya.
520Please respect copyright.PENANAWaKflbRmMR
Bukan ciuman pelan. Bimo mencium ibu dengan lapar yang sudah ditahan berhari-hari. Bibirnya yang kasar menekan bibir ibu yang lembut, lidahnya mendorong masuk, mencari lidah ibu. Ibu mengerang pelan di dalam mulut Bimo, tangannya naik dan memegang bahu Bimo yang lebar dan basah. Mereka saling menghisap bibir dengan rakus, air liur bercampur dengan air shower yang mengalir di tubuh mereka.
520Please respect copyright.PENANAFbxH7n1t4R
Bimo mendorong ibu ke dinding kamar mandi yang dingin. Tangannya yang basah naik ke dada ibu, meremas payudara montok itu dari luar daster yang basah. Kainnya menempel erat, memperlihatkan bentuk payudara yang sempurna—bulat, berat, puting yang sudah mengeras dan gelap terlihat jelas. Bimo meremas lebih keras, ibu jarinya memutar puting ibu melalui kain. Ibu mendesah lebih keras, punggungnya melengkung, mendorong dadanya ke tangan Bimo.
520Please respect copyright.PENANAA7bLIoVKvs
Bimo menurunkan kepalanya. Ia menarik daster ibu ke bawah dengan kasar, membuat satu payudara ibu terlepas keluar. Payudara montok itu jatuh berat, bentuknya indah, puting gelap sudah mengeras dan mengkilap karena air. Bimo langsung menghisap puting itu ke dalam mulutnya dengan rakus. Ia menghisap kuat, lidahnya menjilat dan memutar puting sensitif itu, giginya sesekali menggigit pelan. Ibu menjerit pelan, tangannya memegang rambut Bimo, mendorong kepalanya lebih dalam ke dadanya.
520Please respect copyright.PENANA7LqUqBJAZ0
“Mas Bimo… ahh… hisap lebih kuat… payudara saya… sudah lama tidak disentuh seperti ini…”
520Please respect copyright.PENANA1fWeqctF7L
Bimo menghisap bergantian kedua payudara ibu. Ia meremas yang satu sementara menghisap yang lain, air liurnya bercampur air shower mengalir di kulit payudara ibu yang halus. Ibu mendesah tanpa henti, tubuhnya gemetar, pahanya saling menekan karena sudah basah di antara kakinya.
520Please respect copyright.PENANAM95Aw3Fbp4
Bimo menurunkan tangan kanannya ke bawah. Ia mengangkat daster ibu ke pinggang, tangannya yang kasar menyentuh paha dalam ibu yang mulus dan lembab. Jari-jarinya naik lebih tinggi, menyentuh celana dalam ibu yang sudah sangat basah. Ia mengusap pelan di atas kain, merasakan panas dan kebasahan ibu.
520Please respect copyright.PENANAU5c8O9A9RT
“Bu… sudah basah sekali,” bisik Bimo serak di telinga ibu sambil terus menghisap putingnya. “Memek Ibu sudah basah karenaku.”
520Please respect copyright.PENANAAwXmWvSjpV
Ibu mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Ya… sudah basah… karena kamu… karena tanganmu… karena mulutmu di payudara saya…”
520Please respect copyright.PENANAUx0kKp389k
Bimo menarik celana dalam ibu ke samping. Jari tengahnya langsung menyentuh bibir vagina ibu yang sudah bengkak dan basah. Ia mengusap pelan dari bawah ke atas, mengumpulkan cairan ibu yang kental dan hangat. Lalu ia memasukkan satu jari ke dalam vagina ibu—pelan tapi dalam. Dinding dalam ibu yang kenyal dan panas langsung menjepit jarinya. Ibu mengerang keras, kepalanya terjatuh ke belakang menempel dinding.
520Please respect copyright.PENANAwQcguy0fHg
Bimo menggerakkan jarinya keluar-masuk perlahan, ibu jarinya memutar klitoris ibu yang sudah bengkak. Ia menambahkan jari kedua, meregangkan vagina ibu yang sudah lama tidak disentuh seperti ini. Cairan ibu semakin banyak, mengalir ke paha dalamnya, baunya manis-masin yang khas wanita dewasa yang terangsang. Bimo mencium aroma itu dan semakin keras menghisap puting ibu.
520Please respect copyright.PENANA7RrrEwhLG9
Ibu menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan jari Bimo. “Mas… lebih dalam… jari kamu… ahh… enak sekali… jangan berhenti…”
520Please respect copyright.PENANAYYBG3WtHoD
Bimo menarik jarinya keluar, membawa cairan ibu yang banyak di jarinya. Ia menjilat jarinya sendiri di depan ibu, menikmati rasa ibu. Lalu ia berlutut di depan ibu, mengangkat satu kaki ibu ke bahunya, dan menenggelamkan wajahnya ke antara paha ibu.
520Please respect copyright.PENANANc6YeDL2Ui
Lidah Bimo langsung menjilat vagina ibu dari bawah ke atas—panjang, lambat, rakus. Ia menjilat bibir luar yang bengkak, lalu memasukkan lidahnya ke dalam lubang yang basah dan panas, menjilat dinding dalam ibu. Ibu menjerit, tangannya memegang kepala Bimo kuat-kuat, pinggulnya mendorong ke depan, menunggangi wajah Bimo. Bimo menghisap klitoris ibu ke dalam mulutnya, lidahnya memutar cepat, sementara dua jarinya kembali masuk ke dalam vagina ibu dan menggerakkan cepat.
520Please respect copyright.PENANApvgwa81YcQ
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI


