Pangeran Yi Joon dan Hyuk masih terus berjalan menjauh dari tempat istirahat Selir Choi. Keduanya memutuskan mencari makanan saat Pengawal Soo Ho membuat perapian untuk menghangatkan udara dingin. Meskipun dinginnya mulai berkurang, tidak seperti sebelumnya, tetapi Selir Choi dan Ara tetap membutuhkannya.
"Pangeran, apa tidak sebaiknya kita memisahkan diri?" Hyuk membuka suara.
"Hyuk," panggil Pangeran Yi Joon yang menghentikan langkah kakinya lalu melihat Hyuk.
"Ya, Pangeran." Hyuk ikut menghentikan langkah kakinya.
"Bukankah kita tidak punya tujuan?" lanjut Pangeran Yi Joon penuh arti.
Hyuk tertegun mendengarnya.
"Paman Gi Sung sudah wafat, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya ada aku sendiri. Kamu boleh pergi, tentukan tujuanmu sendiri. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik," ucap Pangeran Yi Joon tampak tulus dan ikhlas.
"Pangeran tega sekali?! Aku sudah berjanji pada Komandan Han Gi Sung, seumur hidup menjadi pengawal Pangeran. Tujuanku adalah tugasku, menjaga Pangeran. Jadi, jangan pernah menyuruhku pergi meninggalkan Pangeran selama aku masih hidup, jangan pernah." Tolak Hyuk dengan kesal.
"Kamu menolak perintahku?!" tanya Pangeran Yi Joon dengan kesal pula.
"Bukan begitu..." kalimat Hyuk terpotong.
"Itu adalah perintah," kata Pangeran Yi Joon memasang wajah serius.
"Mohon tarik kembali perintah itu, Pangeran." Hyuk jadi ikut serius. Dia tampak seperti pengawal yang sesungguhnya sambil menundukkan kepalanya.
Pangeran Yi Joon memperhatikan Hyuk sambil tersenyum geli. Melihat perilaku Hyuk, membuatnya senang bisa mempermainkan perannya meskipun hanya pada Hyuk, pengawal setianya yang selalu menjaganya sejak bayi.
"Baiklah," jawab Pangeran Yi Joon yang kembali normal.
Hyuk memberanikan diri mengangkat wajahnya.
Pangeran Yi Joon memamerkan senyum lebarnya lalu kembali bergerak menyusuri jalan menuju desa terdekat. Hyuk menghembuskan napas lega dan mengikuti setiap langkah kaki Pangeran Yi Joon.
"Jadi, aku dan Pangeran akan tetap bersama mereka?" Hyuk masih tetap memikirkan hal itu.
"Iya, lagipula dengan kedatangan mereka , membuat aku dan kau selamat dari dukun cantik itu. Bukankah seharusnya kita membalas budi?" balas Pangeran Yi Joon ringan.
"Benar, aku pikir juga begitu. Tetapi, Pangeran..." Hyuk masih merasa ragu.
"Apa lagi?"
"Benarkah dia putri dari Komandan Han Gi Sung?" tanya Hyuk langsung.
"Bukan," jawab Pangeran Yi Joon pendek.
"Lalu, dia...?"
"Itu yang sedang aku cari tahu," Pangeran Yi Joon mengambil jeda. "Jaga mulutmu sampai aku menemukan jawabannya." Lanjutnya memperingatkan.
Hyuk menjawab dengan mengapitkan bibirnya.
"Bagaimana Pangeran bisa tahu?"
"Paman Gi Sung memang menikahi Tabib Seo, tapi mereka tidak bisa memiliki anak. Perempuan yang kamu temui itu adalah Tabib Seo, istri Pamanku." Jelas Pangeran Yi Joon.
Pangeran Yi Joon mengingatnya, pamannya itu pernah memberitahu tentang Tabib Seo saat mengajaknya berkunjung ke makam kakak perempuannya untuk yang kali pertama tanpa Hyuk. Pamannya itu meninggalkan istana bersama Tabib Seo. Tanpa diketahui istana, Tabib Seo membawa serta seorang bayi mungil yang tidak lain adalah Pangeran Yi Joon atas perintah ratu pertama. Keputusan itu diambil agar kejadian yang pernah menimpa kakak pertamanya tidak terulang kembali.
Hyuk mengangguk-anggukan kepalanya baru memahaminya.
"Dia jelas bukan Putri Yi Ara, tetapi kenapa dukun cantik itu meyakini bahwa dia adalah Putri Yi Ara, Pangeran? Pernahkah Pangeran memikirkan hal itu?"
"Mungkin karena aura pedangnya," jawab Pangeran Yi Joon asal.
"Pedang?" ulang Hyuk keheranan.
11Please respect copyright.PENANA3MjwhlwHC6
^ ^ ^
11Please respect copyright.PENANAjgqF8TQFgJ
Dayang Eun Byul mempercepat langkah kakinya untuk menemui Permaisuri Jang. Sedangkan Permaisuri Jang tengah menikmati waktu berendam nya sambil menikmati arak kesukaannya.
"Ada apa?" tanya Permaisuri Jang langsung.
Dayang Eun Byul mendekati tempat Permaisuri Jang, memberitahukan hal penting.
"Mereka tidak bisa menemukannya, Yang Mulia. Pasukan bantuan yang dikirm Kepala Dayang Song juga tidak bisa melacak jejaknya. Tandu yang membawanya pun tidak dapat ditemukan di mana pun." Lapor Dayang Eun Byul.
"Begitu?" Permaisuri Jang merespon dengan ringan.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya, Yang Mulia. Menghilang tanpa jejak, atau mungkin...?" Dayang Eun Byul menerka-nerka.
"Pastikan mereka menemukannya, hidup atau mati. Perintah mereka untuk segera melaksanakan tugasnya di luar istana. Itu, satu-satunya cara yang paling aman untukku." Perintah Permaisuri Jang lalu mengecap araknya.
"Baik, Yang Mulia."
11Please respect copyright.PENANAQWsp5gKtvw
^ ^ ^
11Please respect copyright.PENANAhtXUqOZT1T
Perlahan Ara membuka mata. Kemudian, dia menggerak-gerakkan jemari tangannya lalu mengangkat kepalanya yang berat. Dia menyandarkan kepalanya di pohon yang ada di punggungnya. Diaturnya napas perlahan pula. Setelah merasa saraf-saraf di tubuhnya bekerja dengan baik, dia menghembuskan napas lega.
"Sudah bangun?"
Suara itu membuat Ara menoleh.
Terlihat Pengawal Soo Ho sedang sibuk dengan api yang berada di samping Ara. Tanpa diperintah, dia berdiri menuju air yang mengalir di depannya. Dia memetik sebuah daun besar, dibentuknya kerucut lalu mengambil air jernih itu dan diberikannya pada Ara. Ara melepas pegangannya pada pedang naganya lalu menerima air pemberian Pengawal Soo Ho. Dia segera meminumnya untuk melepas dahaga di tenggorokannya. Ketika itu, mata Pengawal Soo Ho menatap pedang naga milik Ara.
"Apa dia melakukan tugasnya?" tanya Ara setelah menghabiskan air minumnya.
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala.
"Pangeran bahkan tidak berani menyentuhmu saat pedangmu bergerak keluar dari sarungnya dengan sendirinya," Pengawal Soo Ho tersenyum tipis.
Ara melihat pedang naganya dan telapak tangan kirinya secara bergantian.
Gua juga bisa mengendalikan sesuatu?11Please respect copyright.PENANAhLvo0kPJix
Ah, kutukan nggak masuk akal.
Ara mendesah dalam hati.
Sementara itu, Selir Choi yang dibantu Dayang Hye Won menghampiri ke tempat Ara.
"Bagiamana keadaanmu? Baik-baik saja?" tanya Selir Choi yang masih tetap lemah.
Kepala Ara terangguk. Tanpa kentara, diperhatikannya Selir Choi yang pucat dan lemah, kondisinya tidak membaik.
Bersamaan dengan itu, Pangeran Yi Joon dan Hyuk ikut menuju tempat Ara sambil membawa banyak kentang dan ubi jalar bakar. Mereka pun berkumpul bersama.
"Makan," kata Pangeran Yi Joon sambil memberikan ubi jalar bakar pada Ara.
Ara menerimanya tanpa kata.
"Terima kasih, Pangeran sudah melakukan banyak hal." Seru Selir Choi mewakili.
Pangeran Yi Joon menatap Ara.
"Tidak bisakah kamu melakukannya sendiri? Haruskah Yang Mulia yang selalu melakukannya untukmu?" Pangeran Yi Joon mengingatkan Ara dengan kesal.
Pangeran Yi Joon mulai membiasakan diri untuk menyebut Selir Choi dengan sebutan Yang Mulia agar penyamaran yang dilakukannya selama ini sebagai Tuan Muda Han Joon tetap aman.
Ara menoleh, melihat manik mata Pangeran Yi Joon.
"Jangan membuatku kesal. Meskipun aku baru bangun, tapi kesadaranku sudah kembali penuh." Balas Ara memperingatkan sambil menunjukkan telapak tangan kirinya yang masih dililit kain.
"Menyebalkan," keluh Pangeran Yi Joon.
Selir Choi tersenyum tipis. Sedangkan Pengawal Soo Ho dan Dayang Hye Won berusaha menyembunyikan senyumnya masing-masing. Berbeda dengan Hyuk, dia menegang melihat Ara menunjukkan tangan kirinya.
Ara tidak mengacuhkan mereka yang memberikan ekspresi masing-masing. Dia segera mengupas ubi jalar di tangannya dan memakannya. Perutnya kelaparan setelah bangun dari pingsannya.
"Terima kasih," ucap Ara yang fokus pada ubi jalar nya.
Pangeran Yi Joon tersenyum miring mendengarnya.
"Setelah ini, kita akan bermalam di desa terdekat. Pangeran Yi Joon dan Pengawal Hyuk tadi menemukan desa itu saat mencari makanan." Pengawal Soo Ho memberitahukan sambil makan kentang bakar miliknya.
Ara meresponnya dengan satu kali anggukan kepala.
Ketika semuanya fokus makan, Ara memperhatikan Selir Choi. Tampak jelas Selir Choi tidak nafsu makan. Kondisi tubuhnya yang lemah bisa saja memperburuk kondisinya jika tidak makan. Buru-buru Ara menghabiskan ubi jalar bakarnya lalu beranjak menuju aliran air mencuci tangannya dan meminum air jernih tersebut.
"Boleh aku pegang tanganmu, Yang Mulia?" tanya Ara sambil membuka lilitan kain pada telapak tangan kirinya.
Semua mata memandanginya dengan waspada.
11Please respect copyright.PENANAbDPQwNncKD
11Please respect copyright.PENANAkH5xT94o6r
11Please respect copyright.PENANAa3CYBC8FLS
Bersambung...
11Please respect copyright.PENANAzmZTdBE86L
11Please respect copyright.PENANA5cQUh96qWK
11Please respect copyright.PENANAmDqDPhas1F
11Please respect copyright.PENANAs1SHFwciy3


