"Bagaimana jika dia berubah menjadi seperti dukun cantik itu?" tanya Hyuk tiba-tiba.
Hal itu jelas membuat semua orang menegang di tempat masing-masing.
Selir Choi menelan ludahnya yang kering.
"Kita akan putuskan saat itu terjadi," kata Selir Choi bersuara lemah.
"Bagaimana jika saat itu terjadi dan sudah terlambat?" sambung Pangeran Yi Joon.
Mendengar itu, Selir Choi semakin lemas dan Dayang Hye Won yang berada di sampingnya langsung memegangi tubuhnya.
"Yang Mulia butuh istirahat. Tubuhnya semakin lemah." Ujar Dayang Hye Won pada Pengawal Soo Ho.
Pengawal Soo Ho sigap mengangkat Selir Choi setelah meminta izin menuju tempat semula yang disiapkan oleh Dayang Hye Won.
"Dia akan baik-baik saja, kan?" tanya Selir Choi dengan suara pelan.
Pengawal Soo Ho menurunkan Selir Choi dengan hati-hati sambil dibantu Dayang Hye Won.
"Jangan terlalu khawatir, Yang Mulia. Dia pasti akan baik-baik saja. Seperti yang dikatakannya, dia membutuhkan istirahat. Setelah beristirahat, dia pasti akan kembali baik-baik saja seperti yang terjadi di goa lembah dingin. Anda mengingatnya, bukan?" Pengawal Soo Ho berusaha menjawabnya dengan baik agar Selir Choi tenang.
Kepala Selir Choi pun terangguk lemah.
Pengawal Soo Ho menoleh, melihat ke arah Ara yang masih di posisi yang sama. Di sana masih ada Pangeran Yi Joon yang mematung berdiri menatap Ara.14Please respect copyright.PENANA9UyVjTIRqa
Dia akan baik-baik saja.14Please respect copyright.PENANAA2Z7KPkKI1
Dia akan baik-baik saja.14Please respect copyright.PENANAEA4bgHTYfV
Dia akan baik-baik saja.14Please respect copyright.PENANAZqsRnJn4Gt
Batin Pengawal Soo Ho berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Pengawal Soo Ho, jaga Ara agar tetap hangat." Perintah Selir Choi.
Melakukan perjalanan yang mengorbankan banyak nyawa bersama Ara, membuat Selir Choi sadar bahwa Ara tidak bisa bersanding dengan udara dingin. Beruntung perapian yang dibuat Pengawal Soo Ho cukup membantu Ara tetap hangat dan dapat beristirahat dengan baik.
Pengawal Soo Ho menganggukkan kepala patuh.
"Baik," jawabnya.
14Please respect copyright.PENANADS7WKnkauN
^ ^ ^
14Please respect copyright.PENANAbe4Lfmh09b
Kuda yang ditunggangi Hyun Tak berlari cepat. Begitu juga dengan kuda keempat anggota perguruan yang dibawanya kembali menuju Desa Yuhan. Dia kembali ke sana untuk mengecek hasil pencarian yang dilakukan para anggota perguruan lainnya yang memang ditugaskan sebelumnya. Sesampainya di sana, Hyun Tak sudah ditunggu.
"Bagaimana?" tanya Hyun Tak langsung.
"Kami belum menemukan mereka. Pasukan pertama yang mengikuti mereka saat itu juga, mereka kehilangan jejaknya di dalam hutan terlarang." Lapor ketua pasukan dua.
"Hutan terlarang?" ulang Hyun Tak.
Ketua pasukan dua menganggukkan kepala.
"Ketua pasukan pertama membawa semua anggotanya memasuki hutan terlarang dan menyisakan satu untuk melapor pada kami jika terjadi sesuatu. Hingga saat ini, mereka belum kembali. Saya sudah mengirim setengah anggota dari pasukan dua pun belum kunjung kembali," lanjutnya melaporkan situasinya.
"Apa yang terjadi?" tanya Hyun Tak menyadari sesuatu. Perasaannya menjadi tidak enak dengan laporan tersebut.
Semua anggota perguruan Ji Soo sudah terbiasa dilatih memasuki hutan terlarang di beberapa daerah dan melacak jejak. Mereka selalu berhasil keluar dari hutan terlarang tersebut dan menemukan jejak yang dijadikan target. Seperti yang mereka lakukan selama ini untuk melacak semua anggota Klan Han yang tersebar di seluruh tempat setelah mangkatnya ratu pertama.
Namun, jika kali ini mereka gagal, itu artinya telah terjadi sesuatu.
"Saya sudah berkali-kali mengecek hutan di sekitar hutan terlarang itu bersama sisa dari anggota pasukan dua, semuanya ada tanda tidak seharusnya memasuki hutan tersebut. Setelah kami melewati tanda itu, selalu berakhir di pintu utama hutan yang berada tidak jauh dari kediaman Komandan Han Gi Sung. Sepertinya hutan terlarang itu tidak bisa dimasuki bebas," jelas ketua pasukan dua.
"Apa maksudmu? Pasukan pertama saja bisa memasuki hutan terlarang itu, bahkan setengah dari pasukanmu juga." Hyun Tak menekankan kata-katanya.
Ketua pasukan dua bungkam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Saya minta maaf," katanya hanya bisa mengakui kesalahannya.
Hyun Tak mendesah kesal.
"Kalian sudah membersihkan semua tempat ini?" lanjut Hyun Tak.
"Pasukan empat sudah melakukannya," jawab ketua pasukan dua.
"Bagaimana dengan pasukan tiga?" Hyun Tak bertanya lagi.
"Pasukan tiga masih menyusuri tempat-tempat selain hutan terlarang dan belum ada kabar jika menemukan jejak mereka."
Hyun Tak mengangguk mengerti lalu menoleh melihat kediaman Komandan Han Gi Sung dalam diam. Ingatannya timbul ke permukaan. Dia ingat saat Ara menebaskan pedang naganya ke perut Kim Young. Dia juga ingat saat Kim Young yang lemah berlumuran darah tidak sadarkan diri setelahnya. Dia bertekad akan melakukan hal yang sama pada Ara meskipun nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.
"Aku sendiri yang akan memimpin masuk ke dalam htan terlarang itu. Aku bawa sisa anggota pasukanmu. Perintahkan pasukan empat siaga di tempat. Kamu kembalilah ke perguruan dan lapor pada Nyonya seperti yang kamu laporkan padaku. Mengerti?" kata Hyun Tak memberikan perintah.
"Baik," jawab ketua pasukan dia patuh.
Ketua pasukan dua segera melaksanakannya.
Hyun Tak mengingat setiap gerakan ilmu pedang yang digunakan Ara, begitu lihai dan akurat. Pedang naganya pun tepat mengenai jantung dan leher. Itu jelas sama persis seperti pasukan yang telah gugur yang dibawa oleh Pemimpin Jung hari itu. Semua orang yang membuatnya mampu bertahan hidup telah dibunuh oleh Ara yang diyakininya sebagai Putri Yi Ara. Dia tidak akan membiarkan hidup Ara tenang.
Putri Yi Ara, aku pasti akan menemukanmu.
Batin Hyun Tak dengan bengis.
14Please respect copyright.PENANAaE3xp9VlVf
14Please respect copyright.PENANAbpFPLb36S7
14Please respect copyright.PENANAztS6mrBxr6
Bersambung...
14Please respect copyright.PENANAAMDTanFzTI
14Please respect copyright.PENANAgwibHmMMus
14Please respect copyright.PENANAzrdpg9WW19
14Please respect copyright.PENANAJhy1zIgdaw
14Please respect copyright.PENANAcJ7GzEmjjN


